Tulisan ini dapat dibaca di blog kompasiana.

Usia muda memang harus energik.  Betapa tidak, hanya usia muda yang punya fisik kuat dan mumpuni.  Usia muda memungkinkan mobilitas tinggi relatif tanpa kendala.  Saat SMA, semangat tersebut diperlukan untuk memulai aktualisasi diri.  Saat mahasiswa, idealisme mulai terbangun beriringan dengan pembelajaran dan kedalaman pemikiran.  Saat awal-awal menikah, semangat dan idealisme diarahkan dan dikonsolidasikan dengan pasangan hidup untuk menata masa depan menuju keberkahan.  Di saat usia empat puluhan, beberapa orang dengan semangat usia muda masih saja trengginas.  Namun yang seperti ini tidak banyak.  Kendala mobilitas dan idealisme mulai menurun (bukan mlempem) karena memiliki pertimbangan lebih komplek, misalnya faktor kesehatan, anak, dan alasan waktu.

Bagaimana mengisi usia muda? Apakah dengan nongkrong di pinggir jalan dengan ngopi capucino? Apakah cuma jalan-jalan menghabiskan waktu di jalan? Dengan main game berlama-lama di depan komputer? Main handphone, sms, chating, atau BB-an menghabiskan pulsa? Atau hanya males-malesan tanpa hasrat mengelola waktu?  Sungguh sayang kalau hanya demikian.  Namun jangan kaget, pemandangan tersebut begitu mudah ditemukan pada segala umur.

Suatu saat penulis bertemu dengan seorang kawan.  Ia setengah mengeluh, putrinya yang SMA terlalu serius, suka membaca dan menyendiri di kamar.  Kawan tadi memang merasa kesepian karena sesungguhnya ia ingin bisa bermain dan bercanda dengan putrinya.  Penulis tidak memberi komentar dengan keluhan tersebut.

Tidak lebih satu bulan, kawan tadi kembali “mengeluh sedih bahagia” kepada penulis.  Katanya: “Anak saya mau berangkat ke Amerika untuk pertukaran pelajar.  Hanya dua orang di kota saya yang lolos seleksi program tersebut”.  Kembali penulis tidak berkomentar dengan hal tersebut.

Kira-kira satu bulan kemudian, kawan tadi “mengeluh kangen putrinya”.  “Pak Iwan, saya mau ke kedutaan Amerika untuk tanya-tanya tentang program sejenis, agar saya bisa pergi ke Amerika.  Kebetulan saya ada kenalan di kedutaan”.  Kemudian kawan tadi menunjuk ke facebook di laptopnya.  Di laptop itu, nampak foto-foto seorang wajah gadis Melayu ditengah kerumunan wajah kulit putih dan hitam. Ia tidak menyangka melihat anaknya yang memakai jilbab bisa akrab dengan remaja bule Amerika.  Ia merasa tidak percaya anaknya “mampu berkomunikasi” seperti itu, mampu bersosialisasi secara multikultural.  Ia hanya tahu anaknya di rumah sangat pendiam.  “Anak saya hanya mau ngomong dengan ibunya.  Jarang berbicara dengan saya”, katanya kawan itu.  Akhirnya penulis memberi komentar pendek: “Bapak harus bersyukur, putri bapak adalah anak muda yang luar biasa.  Tidak banyak anak muda seusia itu bisa berkesempatan ke luar negeri dengan kemampuannya sendiri”.  Sejak itu, penulis tidak ketemu secara fisik dengan kawan tersebut, kecuali via telefon dan sms.

Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa anak muda bisa menunjukkan potensinya, hanya melalui belajar.  Tidak ada lain kecuali hanya dengan belajar.  Bila usia SMA, anak tersebut harus bersemangat dan mau belajar matapelajaran SMA.  Bila usia mahasiswa, ia harus pandai berkreasi dan menyelesaikan akademiknya secepat mungkin.  Sesungguhnya kawan saya tadi seorang ustad.  Selama ini ia menciptakan suasana belajar di rumah dan anaknya mematuhi amanah tersebut.  Tentu saja ia dan istrinya senantiasa mendoakan yang terbaik untuk keluarganya.

Baru-baru ini, seseorang mendatangi penulis. Ia tergolong masih usia muda.  Ia minta ijin untuk studi doktor ke Inggris.  Sebenarnya pertemuan sebelumnya sudah sering terjadi.  Dalam berkomunikasi, ia sangat rendah hati; bahkan terkadang “sangat kabur” membaca semangatnya untuk studi.  Penulis sangat memahami hal ini.  Studi doktor khususnya ke luar negeri akan membuka tantangan luar biasa, tantangan dari diri sendiri, keluarga dan aspek lainnya.  Pada posisi itu, rasio tidak bisa menjelaskan perihal kepastian studi.  Sikap yang paling tepat adalah diam dan menjalani.   Penulis membesarkan perasaannya untuk tidak takut menjalani.  Sudah banyak yang berhasil menjalaninya.  Studi doktor bagaikan perjalanan spirituil dimana akan mampu menemukan definisi pertolongan Allah yang senyata-nyatanya.

Penulis mengajak para usia muda jangan takut untuk belajar.  Manfaatkan waktu untuk belajar.  Disiplinlah untuk belajar.  Jangan takut dan mudah menyerah.  Wajar ada rasa bosan, lelah, jengkel  dan marah ketika menemui kendala dan kesulitan.  Setelah itu segera duduk untuk memulai belajar.  Gunakan kaki untuk melangkah ke perpustakaan dan toko buku.  Manfaatkan mata untuk membaca, mengaji, dan menyimak.  Manfaatkan pendengaran secara positif, jauhi ghibah.  Gunakan tangan untuk mencatat, mencatat, menulis dan menulis.  Batasi pembicaraan dari yang tidak perlu.  Wahai para usia muda, tetaplah energik dan semangat.  Bangsa ini membutuhkan kiprahmu.

Orang-orang besar dan berpengaruh di dunia, tertempa ilmu, suka membaca dan belajar di usia muda.  Lihat Pangeran Diponegoro, Bung Karno, Jendral Sudirman, dan Supriyadi.

Kesulitan dan kemudahan adalah dua sisi yang  mudah diperdebatkan.  Dan jangan terjebak dengan itu.  Terus melangkah sebelum menemukan kesulitan itu memang sulit.   Jangan berpuas diri sebelum menemukan kemudahan itu memang mudah.

Vila Bukit Sengkaling, Lembah Panderman, 12 Oktober 2011