Dipublikasikan pada blog Kompasiana, 26 November 2017
Peminat wisata ke gunung Bromo sudah mengenal banyak tempat yang indah, misalnya Penanjakan, Lautan Pasir, Kawah Bromo, bukit Teletubis, atau Ranupane. Namun mendengar nama obyek puncak B29, merupakan hal baru. Dimanakah tempat yang punya julukan Negeri di atas Awan. Kira-kira itu pertanyaan banyak orang.



Saya mengingat-ingat lagi nama itu, sambil mendengar cerita beberapa orang yang pernah ke puncak B29. Memang saya pernah ditawari untuk pergi ke sana saat berkunjung ke desa Ngadas dua atau tiga tahun lalu. Saat itu saya kurang tertarik karena lokasinya cukup jauh dari Ngadas, dan harus naik motor ojek melewati ladang, bukit dengan medan yang berat dan berbahaya. Desa Ngadas adalah desa tertinggi di daerah pegunungan Tengger yang terletak di sisi kabupaten Malang. Sementara lokasi puncak B29 masuk wilayah desa Argosari, kecamatan Senduro, kabupaten Lumajang.
Seiring dengan waktu, nama B29 itu akhirnya makin populer. Beberapa teman bercerita indahnya tempat itu. Ini akhirnya membuat saya makin penasaran, sehingga saya pun akhirnya berkesempatan ke sana.. meski tanpa persiapan karena kebetulan ada kepentingan dinas ke Lumajang.
Kami berlima (termasuk driver) berangkat menuju desa Argosari dari kota Lumajang jam 10 pagi menggunakan mobil. Perjalanan lumayan lancar hingga masuk desa Argosari. Keadaan desa ini mirip desa Ranupane, kuat dengan nuansa pertanian hortikultura. Di depan rumah warga desa, nampak tumpukan keranjang hasil bumi atau mobil-mobil jip atau pickup pengangkut. Mobil kami masih naik terus, hingga masuk jalan berpaving yang berukuran sempit hanya untuk satu mobil. Disini tidak lagi nampak rumah, tetapi hanya ladang dan jurang. Kami sudah mulai was-was. Maklum kami sudah berusia di atas 50 tahun, bahkan seorang dari kami sudah dipanggil oma. Si Oma pun sudah ketakutan dan pucat, sekali-kali histeris sejak masuk jalan makadam ini. Awan atau kabut yang menutup jalan membuat hati ini makin mengecil.
Di balik awan itu tentu udara bebas atau jurang. Awan itu bukan di atas atau arah langit, tetapi ada di bawah menutup pemandangan jalan, lembah atau jurang. Itulah mengapa desa ini disebut Negeri di Atas Awan.
Di jalan yang sempit ini, kami minta bantuan seorang warga desa untuk pesan motor ojek, sekaligus memandu jalan kalau-kalau ada mobil atau motor di depan agar ditahan. Tidak banyak mobil dari luar desa yang berani masuk ke sini. Kebetulan saja driver kami sudah mengenali wilayah ini dan beberapa orang di desa.

Mobil berhenti di sebuah rumah, tepatnya homestay milik pak Paiti. Disini kami turun sambil memakai baju tebal karena akan berganti naik ojek. Udara dingin dan awan menyelimuti dusun kecil ini, yang dihuni beberapa kepala keluarga.
Tidak berapa lama, empat motor ojek sudah siap mengantar kami ke puncak B29. Namun, bapak ojek memberitahu bahwa kami akan di antar ke puncak B30 terlebih dahulu sebelum menuju B29.
Perjalanan ojek pun dimulai, dengan rute yang menanjang dan berkelok. Saya pun terkejut saat motor keluar dari jalan paving masuk ke jalan tanah. Motor mulai melambat dan berat karena medan berat, sempit dan naik. Kami sempat bertukar motor, untuk menyesuaikan kemampuan motor dan beban penumpang. Ini benar-benar uji nyali, melewati jalan sempit di sisi jurang yang terbentang. Hati berdebar dan aliran darah seolah berhenti..sampai-sampai kami pasrah saja, menutup mata, takut melihat jalan dan jurang itu. Mendekati puncak, jalur makin menanjak dan dipenuhi vegetasi semak belukar. Motor sering melambat meski tekanan gas meninggi. Begitu sempitnya jalur sering tubuh kami menyentuh dan kaki tergores dahan belukar.
Tidak lama, sekitar 30 menit, perjalanan mendebarkan itu pun berakhir. Kami tiba di puncak B30. Puncak ini hanya seluas 1 ha saja, ditandai dengan sebuah patok atau tugu dan pura yang berjajar di kelilingi tembok rendah. Di sekitar tugu hanya ada tanaman belukar kering, dan sebagian nampak bekas terbakar. Puncak B30 berkesan masih alami, belum tersentuh pengelolaan. Disini, pengunjung hanya ada kami berempat ditemani bapak ojek. Memang hari itu bukan hari libur.



Puncak B30 kabarnya memiliki ketinggian 3000 m di atas pemukaan laut. Tapi kata bapak ojek, itu adalah bukit yang ke tiga puluh. Saya tidak tahu mana yang benar. Namun dari google earth, tinggi puncak B30 sekitar 2700 m Jelasnya, B30 adalah puncak tertinggi dari kaldera gunung Tengger kuno, terletak pada arah tenggara gunung Bromo. Kami berjalan dari tugu ke tepi bukit, untuk melihat pemandangan ke sisi lain. Benar disini lebih indah. Kami bisa melihat lautan pasir, dan gunung-gunung Widodaren, Batok dan Bromo di bawah sana.
Sayangnya, siang itu awan begitu tebal sehingga menghalangi pandangan panorama pegunungan Tengger. Ada saat-saat tertentu awan tersapu angin, tapi tiba-tiba awan lain datang menutup lagi pemandangan. Sekitar 30 menit kami menikmati pemandangan di sekitar puncak B30 itu, sebelum kami berpindah ke bukit B29.

Perjalanan dari B30 ke bukit B29 hanya berjarak 500 m, ke arah selatan menurun dengan medan masih berat. Motor melaju lebih cepat dan sekali-kali dengan rem yang tajam saat jalan terjal. Kami kemudian berhenti di area seperti lapangan yang terbuka dan lebih bersih. Ini katanya sudah masuk B29 meski tidak ada petunjuknya. Kami bertemu dengan pengunjung lain, dengan suasana lebih ramai oleh deru motor ojek. Pemandangan disini pun sama indahnya dengan B30, dimana tutupan awan nampak lebih tipis.
Kami kemudian berhenti di area seperti lapangan yang terbuka dan lebih bersih. Ini katanya sudah masuk B29 meski tidak ada petunjuknya. Kami bertemu dengan pengunjung lain, dengan suasana lebih ramai oleh deru motor ojek. Pemandangan disini pun sama indahnya dengan B30, dimana tutupan awan nampak lebih tipis.
Kami kemudian naik motor lagi menuju arah turun. Rute kemudian memasuki jalanan berpaving menuju tempat yang “tersentuh prasarana wisata”. Nah inilah tempat Puncak B29 yang populer itu. Ada gapura, warung, pos, pagar dan bangunan lain untuk pengelolaan, kenyamanan dan keamanan wisata. Pengunjung disini jumlahnya lebih banyak, ada sekitar 15 orang. Kami memanfaatkan gadget untuk mengabadikan lokasi dan keindahan puncak B29. Saat itu awan tebal menyelimuti udara, sehingga pemandangan nampak terbatas. Kami sedikit berpindah turun ke tempat B29 lainnya, namun kondisinya tetap sama.

Sebaiknya pengunjung datang ke puncak B30 dan B29 di pagi hari karena awan belum terbentuk dan akan menemukan pemandangan yang indah. Di waktu fajar akan nampak matahari terbit yang eksotik dan indah di ufuk timur, dengan sinar kemerahan melukis langit. Begitu matahari sedikit naik, maka akan terlihat lansekap dan panorama kaldera Tengger beserta lautan pasir dan gunung-gunung kecil di sekitarnya.
Kami pun kembali naik motor ojek menuju jalan pulang. Ada rasa syukur dan takjub menemukan pengalaman sekaligus perjalanan ekstrim pada hari itu. Belum tentu kami akan mengulangi lagi.
Malang, 26 Nopember 2017
Penulis menulis buku:
- Iwan Nugroho. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p. ISBN 978-602-9033-31-1
- Iwan Nugroho dan Rokhmin Dahuri. 2012. Pembangunan Wilayah: Perspektif ekonomi, sosial dan lingkungan. Cetakan Ulang. Diterbitkan kembali oleh LP3ES, Jakarta. ISBN 979-3330-90-2
- Iwan Nugroho dan Purnawan D Negara. 2015. Pengembangan Desa Melalui Ekowisata, diterbitkan oleh Era Adicitra Intermedia, Solo. 281 halaman. ISBN 978-602-1680-13-1
- Iwan Nugroho. 2016. Kepemimpinan: Perpaduan Iman, Ilmu dan Akhlak. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p. ISBN 9786022296386