Dipublikasikan pada blog Kompasiana, 10 Juli 2014
Penulis membaca sebuah tulisan yang bagus, baca disini. Tulisan tersebut adalah perihal hasil pilpres terkait perbedaan lembaga survei dalam quick count. Tulisan itu bagus dilihat dari sudut pandang ilmu statistik, dan bukan dari aspek politiknya, apalagi memihak capres-cawapres yang kalah atau menang.
Tulisan itu tentu bisa menjadi pembelajaran. Semoga semakin banyak orang yang memahami dan mencintai ilmu statistik, apa itu statistik, apa itu survei, apa itu error. Tentu saja penulis tidak bermaksud menjelaskan hal-hal tersebut. Penulis memang pernah mengikuti kuliah atau belajar statistik kepada almarhum Prof Andi Hakim Nasution, dua puluhan tahun yang lalu di IPB Bogor. Penulis hingga saat ini tetap perlu terus belajar tentang statistik karena kebutuhan menjalankan penelitian. Prof Andi memang meminta mahasiswa harus menguasai dan memahami statistik. Beliau tidak suka (baca: marah) bila mehasiswa menganggap statistik hanya sebagai alat, apalagi digunakan untuk merekayasa penelitian, menjustifikasi pembenaran atau kepentingan tertentu.
Ilmu statistik, atau ilmu lainnya memuat kerangka berpikir atau metodologi tertentu sehingga dapat menghasilkan atau menjelaskan suatu fenomena tertentu secara obyektif dan teruji. Setiap ilmu, yang metodologinya dijalankan dengan benar, pasti akan memandu (peneliti) kepada kaidah-kaidah obyektivitas, kerja keras, kejujuran, keterbukaan, dan tanggungjawab keilmuan, atau yang disebut sebagai kaidah akademik. Jadi memahami suatu ilmu (termasuk statistik) juga memerlukan pemahaman kaidah-kaidah akademik tersebut. Kiranya hal ini yang ingin ditanamkan Prof Andi, agar mahasiswanya juga mengimplementasikan karakter dan kaidah obyektivitas, kerja keras, kejujuran, keterbukaan, dan tanggungjawab keilmuan. Harapannya, para mahasiswa atau setelah lulus akan menjadi pribadi yang berkarakter dan tangguh menyelesaikan permasalahan kehidupannya. Hal ini yang kiranya membuat nilai lebih lulusan dan alumni IPB.

Penulis melihat, saat ini banyak para dosen yang berpolitik praktis, secara formal atau informal, atau hanya sebagai pendukung. Penulis memahami, bahwa para dosen yang sedang duduk di partai politik, terutama di tim sukses atau pendukung capres, mungkin atau sedang mengalami kegalauan, antara menegakkan idealisme akademik dan menghadapi kepentingan elit-elit politik. Para dosen ini harus bisa menjelaskan secara jujur dan obyektif apa makna quick count kepada politisi lainnya. Para dosen ini seyogyanya tidak melupakan jiwa akademisinya, semata-mata mengejar kekuasaan atau larut mempolitisi quick count. Semoga dosen yang berpolitik praktis ini diberi kekuatan untuk menegakkan kebenaran dan membangun nilai positif dalam lingkungan kehidupannya.
Melalui tulisan ini, mari kita semuanya untuk mau belajar statistik, memahami dunia akademik, agar mengerti apa itu obyektivitas, kerja keras, kejujuran, keterbukaan, dan tanggungjawab keilmuan. Penulis yakin orang-orang politik itu juga pernah duduk di bangku akademik, orang-orang yang terdidik, ada yang guru besar lagi. Kiranya mereka memahami metodologi dan statistik, dan memiliki hati nurani akademik. Tahu mana quick count yang memenuhi standar akademik. Semoga saja program studi statistik semakin diminati mahasiswa, agar dapat mencerahkan kehidupan bangsa ini ke depan. Agar ilmu statistik ya.. tetap ilmu statistik, bukan politik