Dipublikasikan pada blog Kompasiana, 28 Februari 2016
Mengambil keputusan maju, atau tidak menuju DKI-1 bagi Ridwal Kamil, sedang ditunggu banyak orang. Sejauh ini kang Emil, panggilan akrabnya, sudah menghitung langkah-langkahnya. Konsultasi atau menemui banyak pihak atau tokoh, termasuk pertimbangan keluarga dan Ahok, telah dilakukan. Siapapun paham bahwa Ahok adalah faktor penting, calon terkuat gubernur DKI. Ahok telah menunjukkan kinerja nyata membangun DKI. Kang Emil juga memiliki prestasi bagus dalam memimpin Bandung. Dua-duanya orang smart, memiliki leadership sekaligus menjadi manajer yang baik. Andai kang Emil memimpin DKI, Insya Allah pasti berhasil.
Keputusan sedang disiapkan kang Emil. Sebagaimana orang-orang hebat lain, kang Emil pasti mengambil keputusan yang tepat. Apapun hasilnya, tentu telah ditimbang, diukur dan ditelaah. Paling tidak, tiga hal ini yang perlu dipertimbangkan.
Pertama hati nurani. Kita tidak pernah tahu sesungguhnya apa yang menjadi niat atau motivasi kang Emil untuk maju mencalonkan diri. Kang Emil perlu menyaring dan mengukur, antara inisiatif pribadi, desakan pihak lain, atau kombinasinya, atau hal lain. Hanya Allah yang tahu. Karenanya ia perlu merenung, memohon petunjuk kepada Allah, agar benar-benar keputusannya lebih karena “nur” bukan hasrat berkuasa. Nur itulah yang akan memberikan kekuatan, kemudahan dan pertolongan.
Kedua beban, ongkos dan pengorbanan. Maju menjadi cagub DKI memiliki beban, ongkos dan pengorbanan yang besar dan tidak menentu. Ia harus bargaining dengan pihak-pihak tertentu yang mungkin melawan hati nuraninya. Cost itu tidak ditanggung sendiri, ia share melalui mekanisme milih calon wagub/gub, nego dengan parpol, dan tim sukses. Sejauh ini, kang Emil juga masih maju dan tampil sendiri. Belum ada sinyal tokoh pendukung untuk merestui pencalonannya. Ini berarti ia perlu energi besar untuk menghandle cost tersebut. Cost lain yang mesti dihadapi adalah pengorbanan keluarga, masyarakat Bandung, dan pihak lain. Hasil dari pengorbanan (cost) itupun masih belum pasti.
Ketiga timing. Kang Emil posisinya sekarang bukan sebagai penyerang dalam main bola. Juga bukan sebagai back atau kiper. Ia harus memposisikan sebagai pengatur permainan (play maker), mengatur tempo permainan, menghemat energi dan cost. Posisi lawan bagaikan tim Panser Jerman, yang punya power, speed dan strategi yang unggul. Kang Emil harus memiliki strategi yang lebih jitu, yang membiarkan lawan dalam posisi lengah, kemudian memanfaatkan timing menjadi gol. Kang Emil pasti paham hal ini karena juga skuad tim maung bandung. He..he
Kang Emil tetap kang Emil, baik maju atau tidak. Menjadi gubernur atau tidak, Bandung dan DKI tetap aman. Tiap pilihan atau keputusan ada resikonya. Kang Emil sudah memperoleh dan mencapai semuanya, figur teladan dan idola masyarakat. Semoga sehat selalu.
Malang, 28 Februari 2016