Propinsi Sumatera Barat boleh berbangga memiliki tambahan ikon landmark dari bangunan jembatan kelok 9 (JK9) yang megah ini.  Sebelumnya, propinsi ini telah memiliki ikon jam gadang di Bukit Tinggi.  JK9 ini bisa jadi lebih fenomenal dibanding jembatan Suramadu (di Surabaya), jembatan Ampera (di Palembang), atau jembatan Barito (Banjarmasin) (1).

JK9 adalah jembatan jalan yang menghubungkan antara provinsi Sumatera Barat dan Riau.  Jembatan sebenarnya ini sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda, dibangun tahun 1908–1914, sebagai urat nadi pembangunan ekonomi kedua provinsi atau Sumatera secara umum.  Jalan lama hanya terdiri satu jembatan,  yang melintasi sebuah sungai hulu di perbukitan pegunungan bukit barisan (2).

Disebut kelok sembilan karena jalan ini memiliki kelok (tikungan atau belokan) berjumlah sembilan.  Sebelum dibangun jembatan baru, jalanan lama cukup sempit (lebar 5 m), menanjak dan menurun, dan berkelok tajam sehingga menyulitkan kendaraan besar yang melaluinya.  Jalan lama berkelok sembilan ini masih ada dan digunakan oleh kendaraan-kendaraan kecil.  Jalan lama ini menjadi sumber masalah, yakni antrian, kemacetan dan resiko kecelakaan (lihat video).  Jalan lama ini dianggap menakutkan oleh para pengemudi karena berbatasan dengan jurang dan bukit yang terjal.

Karena itu, pemerintah Sumatera Barat mengusulkan pembangunan jembatan layang JK9 untuk mengatasi solusi itu.  Pembangunan JK9 dimulai tahun 2003 dan selesai pada tahun 2013.  JK9 masuk wilayah kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.   JK9 terletak pada koordinat -0.069529, 100.698545,  JK9 dapat ditempuh dari Bukittinggi sejauh 54 km, atau selama 1 hingga 2 jam perjalanan darat.

Kini jembatan baru, yang merupakan jembatan layang, sudah barang tentu sangat nyaman untuk dinikmati, tidak lagi sempit, menukik atau berkelok tajam.  Jalan jembatan memiliki lebar 13.5 m.  Jembatan baru ini juga memiliki sembilan kelokan, dengan panjang keseluruhan jembatan dan jalan yang dibangun adalah 2.537 meter, terdiri dari enam jembatan dengan panjang 959 meter dan jalan penghubung sepanjang 1.537 meter.  Panjang JK9 tersebut secara keseluruhan mencapai 5 kali jalan lama (yang terdiri hanya satu jembatan, lihat gambar)

Denah jembatan kelok 9 (jalan sempit berkelok adalah jalan lama) (Sumber Wikipedia)

JK9 memiliki arsitektur dan konstruksi yang megah dan ramah lingkungan.  Ini adalah karya anak bangsa, menggunakan produk dalam negeri (3).  Disain JK9 terlihat sangat indah, terutama pada bentang jembatan keempat, yang merupakan jembatan jenis pelengkung beton dengan pondasi bore pile sedalam 20 meter untuk menahan berat jembatan dan gaya horizontal gempa.  Disain JK9 seolah-olah menyatu menambah keindahan panorama pegunungan Bukit Barisan (lihat video di bawah).

Kini, JK9 telah menjadi salah satu tujuan wisata.  Para pengendara umumnya berhenti sejenak di sekitar jembatan, untuk istirahat, menikmati pemandangan sekitar yang sangat indah, dan melanjutkan perjalanan kembali.  Banyak wisatawan yang sengaja untuk datang ke JK9, dari arah Bukittinggi, dan atau kemudia menikmati tujuan wisata lain di sekitar Payakumbuh, sebagai ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota.

Di jalan penghubung menuju arah Pekanbaru, jalan paling tinggi, telah menjamur warung-warung tenda yang menyediakan aneka makanan dan minuman.  Pengunjung atau wisatawan biasanya parkir disini.  Mereka dapat istirahat, makan minum, atau melepas lelah.  Pemandangannya sangat bagus dan indah, menyajikan panorama JK9 secara utuh dengan latar belakang pegunungan Bukit Barisan.  Disini pula banyak yang mengabadikan pemandangan dengan mengambil gambar, foto, atau video.

Para traveller, selamat menikmati pariwisata Indonesia

Malang, 1 april 2016

Tulisan yang relevan:

  1. Nikmati Gulai Ikan pak Malin
  2. Nikmati Kawa Daun di Bukittinggi
  3. Jembatan akar Painan

Penulis menulis buku:

  1. Iwan Nugroho. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p. ISBN 978-602-9033-31-1
  2. Iwan Nugroho dan Rokhmin Dahuri. 2012. Pembangunan Wilayah: Perspektif ekonomi, sosial dan lingkungan. Cetakan Ulang. Diterbitkan kembali oleh LP3ES, Jakarta. ISBN 979-3330-90-2
  3. Iwan Nugroho dan Purnawan D Negara. 2015. Pengembangan Desa Melalui Ekowisata, diterbitkan oleh Era Adicitra Intermedia, Solo. 281 halaman. ISBN 978-602-1680-13-1