Dipublikasikan pada blog Kompasiana, 2 November 2016

Setiap orang memiliki masa lalu.  Masa lalu itu punya makna besar membentuk kehidupan seseorang pada saat ini.  Sepanjang masa lalu itu positif, meski sedikit aneh, konyol, memalukan, lucu atau asing, sangat penting untuk dimaknai.

Bila pembaca saat ini berusia lima puluh hingga enampuluhan, umumnya memiliki masa lalu yang sama.  Masa lalu umumnya dekat dengan suasana pedesaan, pinggiran atau udik, dengan kehidupan yang terbatas.  Kalaupun tinggal di kota, kesan ndeso masih terasa karena jamannya memang demikian.

Saat itu, kehidupan dalam kondisi sederhana dan terbatas.  Untuk mencukupi makan sebagian orang masih kesulitan, karena itu kebanyakan berpostur kurus, kunyu dan culun..he..he.  Saat itu, makan daging atau ayam hal yang langka, dan biasanya ada ketika dikirim tetangga yang selamatan (kenduri).  Makan telor pun jarang satu butir utuh.  Saat itu umumnya ibu membuat dadar dari sebutir telor dicampur tepung, kemudian dibagi empat untuk sekeluarga.

Umumnya alam dan udara luar menguatkan kehidupan.  Benar-benar anak kolong langit.  Anak-anak bebas bermain hujan-hujanan, naik pohon, bermain kayu, main tanah, berenang di danau atau sungai, atau bersepeda hingga jauh dari rumah. Energi seolah berlebih, tidak kenal lelah atau mengeluh.  Generasi saat itu sangat menikmati.  Badan justru menjadi sangat kuat, sekaligus hitam, dan keras.  

Saat seusia SD, pada tahun 70an, saya dan teman-teman bisa bermain di luar rumah seharian, baik panas maupun hujan.  Justru saat hujan, betul-betul menikmati.  Kita bisa main bola seharian di lapangan dalam suasana hujan.  Ini tepatnya main bola seperti di kolam, karena lapangan penuh air. Setelah itu, kami mandi bersama…he..he

Tapi ada rasa sedih juga.  Beberapa kali kami kena penyakit yang sama, saling menular dan menularkan, seperti sakit mata, pilek, kadas, gudik, atau infeksi umumnya.  Itu karena kami sangat dekat, main bersama, berebut bola, saling gendong menggendong, terkadang minum dengan gelas yang sama. 

Kalau seorang kena sakit kulit kadas di kepala, maka seluruh kelas akan ketularan. Penyebaran panu ini sangat cepat, karena kami biasa suka mengelus rambut (saat itu dipotong cepak) untuk yel kebersamaan.  Maka setiap orang pun punya pulau panu di kepala…ha.ha.  berbentuk bulat warna putih.  Bila demikian… alih-alih pergi ke dokter, bapak pun di rumah siap menggosoknya dengan obat rempah (jahe, laos) campur salisil.  Panas luar biasa rasanya di kepala, sambil meringis atau meraung kesakitan.  Hampir semua teman pun mengalami hal yang sama.  Bahkan ada yang diobati dengan spirtus.

Urusan layanan kesehatan saat itu, memang serba darurat.  Banyak program pemerintah masuk sekolah SD, seperti cara gosok gigi, vaksin cacar atau folio.  Saat vaksin itu, siapapun berusaha sembunyi menghindar, karena umumnya takut disuntik.  Tapi apa daya, bapak ibu guru sudah membaca pikiran kami.  Akhirnya .. pasrah saja, antara takut, berani atau malu kepada teman. 

Kalau divaksin kemudian nangis, atau menunjukkan rasa takut akan menjadi bulan-bulanan diejek.  Saat itu bully membully antar teman hal yang biasa, bahkan rasanya lebih keras dan harus dihadapi sendiri.  Rasanya pantang kami mengeluh kepada orangtua karena urusan bully membully ini.  Mungkin itu yang membuat mental menguat dan berani.

Sekali lagi alam yang menguatkan kehidupan saat itu.  Ini modal pembentukan karakter,  membuat kami berani menghadapi tantangan, sungguh-sungguh (tatag) menyelesaikan masalah, aktif dan berinisiatif, sportif dan siap berjuang seolah tanpa mikir panjang.  Mungkin ini yang membuat studi kami selamat dan aman saja, meski tidak pintar, di sekolah dasar, menengah hingga perguruan tinggi.  Ini juga karena didikan keras orang tua yang mementingkan pendidikan. 

Kembali mengingat masa lalu itu.  Kami terdidik menjadi pribadi yang mandiri karena keterpaksaan atau keadaan. Urusan cuci dan setrika baju hal yang biasa.  Urusan pribadi sudah selesai.. dan tidak membebani orangtua atau keluarga.  Justru kami harus membantu orangtua.  Tidak ada rasa malu untuk belanja kebutuhan dapur untuk membantu ibu, atau mengambil air (ngangsu) dari sumur atau PDAM tetangga.  Anak-anak seusia kami menjadi andalan untuk membantu pekerjaan rumah.  Unik sekaligus heran,… ternyata saya dan teman-teman saat itu bisa membuat radio sendiri, mbengkel sepeda sendiri, ngecat rumah sendiri, atau bisa menjahit. 

Pengalaman masa lalu itu menjadi modal hidup sekarang, bahkan bekas atau bakatnya masih ada hingga sekarang.  Saat reuni atau ketemuan dengan teman, nampak sekali teman-teman masih menunjukkan kejuangan dan kesungguhan menatap kehidupan.  Karakter berani, inisiatif, aktif sangat kentara.

Dalam kehidupan sekarang ini, saya biasa menjelaskan kepada mahasiswa, bahwa mahasiswa saat ini hidup dalam kondisi yang lebih beruntung, ekonomi lebih maju, semua relatif tersedia.  Saat ini mahasiswa hidup dalam kondisi ekonomi dengan pendapatan per kapita 4000 dolar per tahun.  Jaman saya mahasiswa, pendapatan masih sekitar masih 350 dolar.  Kondisinya jelas berbeda.  Namun ada yang sama, dan ini selalu menjadi motivasi ke mahasiswa, atau ke siapa saja, kapan saja, dimana saja.  Semua orang harus memiliki idealisme, ketangguhan, integritas, sungguh-sungguh untuk belajar dan bekerja keras. 

Kita dapat mengenang masa lalu dari hal-hal yang positif.  Seperti juga dahulu, ke depan kita perlu nikmati hidup ini, jangan pernah merasa lelah atau mengeluh.  Selalu bersemangat belajar, aktif dan berinisiatif mencoba hal-hal baru untuk menjadi lebih baik. Jangan pernah merasa puas.  Effort saat ini akan menentukan kehidupan pada masa akan datang.

Malang, 2 November 2016