Dipublikasikan pada blog Kompasiana, 3 Februari 2017

“Don’t try to be a man of success, try to be a man of value instead” (Einstein)

Saya senang mengikuti pengajian mendengar nasehat-nasehat agama.  Nasehat itu penting untuk mengingatkan, agar diri ini menjadi orang baik.  Nggak tahulah, selalu saja isi ceramah agama itu mengena kepada “kekurangan’ atau “kelemahan” saya.  Ini menunjukkan, masih banyak hal pada diri ini untuk “dibenahi”.

Hal-hal yang menunjukkan “kelemahan” itu sering pula terjadi saat berinteraksi dengan orang lain.  Itu sangat terasa ketika berjumpa dengan orang-orang lebih baik, yang lebih arif, yang lebih lembut, yang lebih bersahaja, atau orang yang sedang berjuang. Rasanya diri ini jauh dibanding mereka.  Mereka itu seolah menjadi guru kehidupan, orang yang menginspirasi.  Itulah yang membuat rasa nyaman ketika bertemu dengan orang-orang seperti itu.

Di kantor, saya berinteraksi dan berkomunikasi dengan dosen atau karyawan.  Dalam banyak hal, saya selalu bertanya bila ada hal yang saya tidak mengerti.  Disitulah saya sering merasa terbantu. Seorang karyawan memberitahu, menunjukkan dan menyelesaikan dengan memberi solusi.  Karyawan itu seolah menjadi guru yang mengajarkan sesuatu kepada saya.

Saya juga bertemu dengan dosen yang baru lulus studi doktor atau magister.  Ia sedang berjuang menata kehidupannya. Ia berjuang dengan sungguh-sungguh, mau menulis publikasi, mengajar dengan baik, berinteraksi dan menyemangati mahasiswa.  Ia juga seperti seorang guru kehidupan, sekaligus mengingatkan saya saat berjuang ketika baru lulus studi.

Saya juga berhadapan dengan mahasiswa yang kondisi ekonominya terbatas.  Namun itu tidak mengurangi semangatnya untuk berprestasi.  Ia berwirausaha dengan menjual kue, asesoris, kerudung, atau menjual pernak pernik untuk membiayai kehidupannya.  Hebatnya ia juga menunjukkan prestasi akademik, aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, dan bersosialisasi dengan kehidupan kampus.  Semangat juang mahasiswa itu membuat saya terharu.  Dalam usia muda ia juga telah menjadi sumber inspirasi.

Di lingkungan kami ada tetangga yang baik dan suka membantu.  Keluarga itu kehidupannya sederhana.  Namun, keluarga itu termasuk dermawan, banyak berinisiatif membantu kepentingan warga, melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk warga.  Ia menyediakan rumahnya untuk kepentingan warga, suka menjamu warga, dan siap menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk warga.  

Baru-baru ini kami juga bertemu dengan ‘mbak’ yang pernah mengasuh anak-anak dan membantu rumah tangga kami.  Sepuluh tahun yang lalu ia bekerja bersama kami dengan baik, sungguh-sungguh dan ikhlas.  Ia begitu menyayangi anak-anak dan sebaliknya.  Kami kemudian berpisah, karena pindah keluar kota.  Kini ia sudah memiliki keluarga yang bahagia, kehidupannya sejahtera.  Mbak ini juga seolah menjadi guru yang menginspirasi.

Saya juga pernah berkunjung di sekolah menengah atas di suatu daerah pedesaan terpencil, di perbukitan dengan akses dan infrastruktur terbatas.  Saya menemui guru-guru yang tulus mengabdi, dengan sarana pembelajaran terbatas.  Bangunan sekolah sangat sederhana, atap genteng terlihat berlobang, tanpa plafon.  Jumlah siswa yang diajar kurang dari sepuluh orang, karena minat sekolah penduduk yang rendah.  Namun para guru itu benar-benar sabar dan mengabdi dengan menerima gaji yang kecil.  Mereka inilah benar-benar guru kehidupan.

Para pembaca mungkin juga menemui guru-guru kehidupan yang sama.  Mereka menginspirasi kehidupan.  Itu bisa dari seorang teman, tetangga, penjual sayur, atau tokoh tertentu.  Mereka menginspirasi karena memberi manfaat atau nilai kehidupan.  Mereka itu misalnya karena perilakunya lembut, arif, suka menolong, mau berjuang, ikhlas atau kejujurannya. 

Orang-orang yang menginspirasi adalah orang-orang yang luar biasa.  Mereka memiliki karakter atau sifat pribadi yang menonjol (1), sebagai berikut.

Kerendahan hati.  Mereka punya sifat humble, tidak suka menonjolkan diri, berbicaranya lembut, tidak memaksa atau keras. Ia diam saja di saat orang lain “ramai atau ribut”.  Orang yang rendah hati mementingkan kerja dibanding berbicara.  Perilaku hidupnya mencerminkan kematangan menjalani kehidupan, punya iman dan ilmu, banyak pengetahuan dan ketrampilan. Karena itu, orang yang rendah hati ini cenderung menunjukkan kearifan dan kedewasaan.

Orang yang rendah hati itu terbiasa dan suka menuntut ilmu dan membaca.  Ilmu dan pengetahuan yang didapat membuatnya bersyukur, merasa kecil dibanding ilmu Allah, jauh dari sifat sombong, jauh dari hiruk pikuk keduniaan.

Keberanian.  Mereka punya karakter berani untuk memberi manfaat bagi orang lain.  Mereka berani menderita fisik atau psikologi untuk kepentingan orang lain.  Mereka melakukan langkah yang benar dengan segala resiko dan konsekwensi kepada diri sendiri.  Keberanian itu dilakukan dengan langkah nyata, melakukan perubahan ke arah yang lebih baik seseuai dengan norma yang berlaku, untuk kepentingan orang lain.

Keberanian tidak perlu ditunjukkan dengan berbicara keras, melawan atau berbeda pendapat. Berani itu bukan seperti para pendemo, penyebar hoax, atau senangnya mengajak massa. Berani lebih kepada perilaku tangguh, mau berjuang dan ulet menghadapi tantangan.  Berani menuntut ilmu, menambah ilmu lebih tinggi, siap bekerja keras, berani beramal, berani hidup sederhana dan berkorban untuk orang lain.

Kebaikan. Ada dua hal yang sering didikotomikan, yakni kepandaian vs kebaikan.  Sebaiknya seseorang harus pandai dan baik, dua-duanya mencerminkan kualitas.  Namun ketika berhadapan dengan orang lain, yang dilihat adalah kebaikan.  Kepandaian mengacu ke individual, sementara kebaikan lebih ke sosial.  Dalam konsep layanan yang berkualitas yang muncul adalah kebaikan, sementara kepandaiannya berada dalam bungkus kebaikan.  Kepandaian belum mencerminkan manfaat, tetapi kebaikan memuat kepedulian dan manfaat, manfaat kepada orang lain.

Dari deskripsi contoh tulisan di atas, mereka tidak menonjolkan kepandaiannya.  Namun saya paham betul mereka itu pandai bersikap dan berperilaku baik. Kebaikannya itu yang terpancar, menginspirasi dan bermanfaat. Karyawan, dosen, mahasiswa, tetangga, guru dan pembantu itu menunjukkan karakter orang yang baik.

Visi.  Orang yang inspiratif memiliki visi yang jelas.  Visi itu menjangkau jauh di atas norma atau pandangan orang lain, dan membawa perubahan yang nyata. Visi itu dipandang orang lain penuh manfaat.  Orang lain menjadi berpikir positif, ‘manut’ dan terinspirasi.

Visi seseorang harus terungkapkan, baik itu dengan sikap, perilaku, atau melalui tulisan.  Berinisiatif membantu orang lain mencerminkan visi seseorang.  Seorang yang visi hidupnya jelas, dapat membantu orang lain untuk membangun kerjasama kepada kemajuan, khususnya di dalam organisasi, sekaligus untuk menginspirasi orang lain.  Ayo berlomba berinisiatif untuk membantu orang lain.

Orang-orang yang menginspirasi adalah orang-orang yang luar biasa.  Apakah kita masuk kategori orang yang menginspirasi.  Untuk itu, dapat dibuat pertanyaan ke diri sendiri.  Apakah saya menginspirasi orang lain.  Apakah saya orang yang rendah hati, tangguh, peduli, atau punya visi yang jelas.  Atau sebaliknya, apakah saya sombong atau arogan, pemalas, tidak menyenangkan, atau tidak punya visi.   

Jawabannya bukan pada kita.   Orang lain yang menilai apakah kita ini masuk kategori orang yang menginspirasi, atau orang yang bermanfaat.

“Khoirunnas anfa’uhum linnas” (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain).