Dipublikasikan pada blog Kompasiana, 30 Desember 2016

Wisata alam atau agro di kota Batu sudah dikenal sejak dulu, melalui wisata kebun apel, tanaman hias, Songgoriti, Paralayang, Arboretrum, Coban Talun, Cangar, dan Selecta.  Kini juga muncul wisata hiburan bernuansa edukasi seperti BNS, Jatim Park, musium satwa, musium angkut, atau Ecogreen Park.

Dari sekian obyek itu, yang menarik adalah alun-alun.  Alun-alun ini juga mendapat perhatian pemkot Batu, telah ditata, dipercantik, dinyamankan dan diramahkan.  Bagaimanapun alun-alun adalah simbol budaya, menjadi pusat bertemunya banyak orang, disajikan pernik-pernik penawaran dan permintaan wisata, tentu dari khas dan uniknya kota Batu. 

Saya tidak bermaksud membandingkannya dengan kota Batu.  Namun beberapa karakternya perlu ditiru oleh kota Batu.  Faktor jarak antar beberapa (tidak semua) obyek wisata juga agak dekat.  Alun-alun kota Batu dapat menjadi pengikat, sekaligus menampilkan potret budaya dan bukti keramahan wisata Batu.  Dan tanda-tanda sudah nampak.

Pertama, lingkungan alam yang nyaman dan sejuk.  Anugrah alam ini nyaman dinikmati, khususnya malam hari dengan suhu rata-rata 21 derajat. Faktor keamanan lingkungan juga positif, membuat orang santai berjalan kaki menikmati udara terbuka di sekitar alun-alun, atau di tempat lain.  Iklim ini mirip dengan wilayah subtropika. Alun-alun dan lingkungan sekitarnya juga telah ditata tertib dan bersih. 

Kedua, lingkungan sosial yang ramah.  Penduduk, pelaku ekonomi, pedagang, pelaku wisata di kota Batu relatif terbuka, dan berpengetahuan untuk siap menerima jasa wisata dan wisatawan dari luar kota.  Karakter ini telah tertanam sejak lama.  Bagaimanapun, sejak jaman Belanda, kota Batu didisain untuk tempat plesiran. Lihat saja, para pedagang, toko, atau aparat yang ditemui di sekitar alun-alun yang memberikan respon, proporsional, dan layanan yang lumayan baik.  Ini yang menyebabkan perkembangan wisata kota Batu melesat.

Ketiga, adanya obyek atau simbol budaya di sekitar alun-alun. Ada masjid, kuliner tradisional, toko suvenir, toko buku, buah, wahana bermain atau hiburan anak, dan termasuk kafe.  Hampir semua usia dapat menikmati keunikan alun-alun kota Batu, termasuk kebutuhan ibadah. 

Alun-alun lebih semarak di malam hari

Batu pada siang hari udaranya panas seperti halnya di Malang, dengan suhu sekitar 26 hingga 30 derajad.  Ini kurang nyaman bagi wisatawan untuk jalan-jalan. 

Ukuran alun-alun Batu kurang dari satu hektar, seolah terasa sesak saat pengunjung memuncak.  Namun, itu tidak perlu dikuatirkan.  Umumnya pengunjung menyebar ke tempat kuliner.  Kuliner khas Batu sangat diminati, antara lain STMJ, ketan, ronde, cwie mie, jagung rebus, jagung serut, es pelangi, dan aneka pangan lainnya.  Semua tersedia dengan harga terjangkau.  Para pedagang kecil tertata rapi di sekitar alun-alun dan masjid, termasuk toko suvenir, memberi kenyamanan kepada pengunjung/wisatawan.

Di sebelah selatan alun-alun lebih ramai pengunjung, khususnya didominasi anak-anak muda.  Disini layanan warung atau toko ditata layaknya kafe modern, dengan disain, warna dan tata sinar lampu menyolok. Terkadang juga ada kegiatan nobar (nonton bareng) live dari channel TV olahraga. Meja kursi tertata di trotoar jalan, mirip dengan Old Town Square kota Praha.  Pengunjungnya penuh sambil ngopi dan bercengkerama.

Apa yang harus dibenahi?

Visi kota wisata Batu adalah pengembangan pariwisata internasional (3).  Ini sudah tepat mengingat modal dasar keramahan wisata sudah dimiliki.  Tinggal bagaimana memenuhi kriteria, persyaratan dan sertifikasi untuk hotel, homestay, dan fasiltas publik lainnya (4).  Penyelenggaraan Batu International Islamic Tourism, pada awal Desember 2016 oleh pemerintah kota Batu menunjukkan komitmen tersebut.

Tugas besar adalah memperbaiki akses dan infrastruktur menuju dan di dalam kota Batu.  Ini menjadi keluhan utama penyebab kemacetan sejak dari Malang.  Moda transportasi publik dalam kota perlu ditata dan dibenahi.  Mobil angkot tidak layak untuk ukuran badan wisatawan Eropa, ngetem lagi…duhh.  Perlu ada bis wisata ukuran sedang dengan jadwal tepat waktu yang menghubungkan Alun-alun ke obyek-obyek wisata dalam kota. 

Kota Batu masih belum memiliki agenda rutin tahunan event wisata.  Di dalamnya dapat disisipkan dua agenda festival wisata internasional sebagai puncaknya.  Tradisi karnaval tahunan setiap 17 Agustus dapat dipromosikan, dengan pembenahan substansi dan kemasan mengikuti kemasan internasional, misalnya festival bunga atau hortikultur sebagai ikon pertanian kota Batu. Ini dapat mencontoh wisata Banyuwangi (5)

Selamat berlibur..

Lembah Panderman, Malang, 29 Desember 2016

Penulis buku

  1. Iwan Nugroho.  2011.  Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan.  Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p.  ISBN 978-602-9033-31-1
  2. Iwan Nugroho dan Rokhmin Dahuri.  2012.  Pembangunan Wilayah: Perspektif ekonomi, sosial dan  kepemimpinan-perpaduan-001lingkungan.   Cetakan Ulang. Diterbitkan kembali oleh LP3ES, Jakarta (ISBN 979-3330-90-2)
  3. Iwan Nugroho dan Purnawan D Negara.  2015. Pengembangan Desa Melalui Ekowisata, diterbitkan oleh Era Adicitra Intermedia, Solo. 281 halaman.  ISBN 978-602-1680-13-