Dipublikasikan pada blog kompasiana, 1 Februari 2018

A writer wants something more than money for his work: he wants permanence. A. A. Milne
Saya pernah menulis perihal penulis dan pemimpin (lihat disini).  Tulisan itu menguraikan mengapa pemimpin perlu belajar dari penulis.  Karena penulis pada dasarnya punya karakter kuat dalam hal mental, teknik, intelektual, membaca, gaul, dan ketangguhan.  Tulisan berikut ini, seolah menggali hal tersebut lebih dalam.

Antara penulis dan pemimpin ada banyak kesamaannya.  Cara kerja mereka, termasuk kehidupannya menunjukkan perihal yang juga hampir sama.  Maka tidak heran, banyak ditemui seorang penulis juga seorang pemimpin, atau pemimpin yang juga penulis.  Dan, nilai lebihnya, mereka yang menjadi penulis dan sekaligus pemimpin, memiliki kekuatan karakter untuk memberikan pengaruh.

Hubungan penulis dan pembaca, atau pemimpin dan pengikutnya mirip-mirip benar dengan hubungan patron-klien. Mereka saling memberikan peran, pengaruh dan transfer manfaat sepanjang hubungan itu berjalan.  Masing-masing menjalankan komunikasi tertentu, untuk memelihara hubungan dan perolehan manfaat dalam kerangka budaya (organisasi) nya.

Layaknya hubungan dan kehidupan organisasi, seorang penulis atau pemimpin pun wajib menjalankan fungsi-fungsi perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan pengendalian. Fungsi-fungsi ini pada dasarnya mengikat atau membatasi seseorang, namun penting agar seorang pemimpin atau penulis bekerja melalui proses yang benar dan dapat mencapai tujuan, dan memberi manfaat untuk banyak orang.  

Sebebas-bebasnya pemimpin atau penulis, ia akan berhadapan dengan persepsi yang berbeda dari pengikut atau pembacanya.  Pengendalian diri perlu untuk memelihara hubungan, komunikasi dan manfaat itu. Pengendalian diri dalam kerangka norma, etika atau nilai-nilai budaya.

Seorang penulis atau pemimpin juga memiliki karakter individu. Karakter itu membentuk pribadi, kemampuan dan kompetensi seorang penulis atau pemimpin.  Karakter yang positif akan memelihara aliran manfaat kepada banyak orang, menginspirasi dan mencerahkan umat.  Seorang penulis atau pemimpin perlu syarat tertentu agar memberi pengaruh positif, antara lain kejujujuran, kekuatan/tangguh, semangat, amanah atau tanggungjawab, dan menguasai ilmu pengetahuan. 

Karakter itu semua terbangun dan tertanam melalui perjuangan dan pengalaman hidup yang menempa seseorang.  Namun, seorang penulis atau pemimpin juga manusia biasa, dengan berbagai kelemahannya.  Ada saat tertentu, mereka terjatuh, terhempas, bangun, dan jatuh lagi. Berikut ini dinamika kehidupan pada diri penulis atau pemimpin.

Idealis vs pragmatis  

Seorang penulis atau pemimpin sering mengejar kesempurnaan atau hal-hal ideal. Penulis berharap menemukan ‘sesuatu’ yang lain dari tulisannya.  Pemimpin juga menginginkan first best result. Tapi, realita seringkali membatasi luaran yang sempurna itu. 

Penulis yang perfeksionis tidak pernah menyelesaikan tulisannya. Mereka terus merevisi, dan mengedit tulisan; dan tidak berujung ke penerbit. Pemimpin yang idealis juga akan uring-uringan menemukan sumber daya yang senantiasa terbatas.  Alih-alih menemukan kinerja yang diinginkan, timnya akan pecah dan tidak tahan dengan idealisme pemimpinnya. Kinerjanya pun berantakan dan hasilnya tidak optimal.

Penulis dan pemimpin perlu menggeser setting visinya yang lebih realistis. Naskah harus diselesaikan dan segera dinikmati oleh pembaca. Kelemahan suatu tulisan adalah alamiah, dan dapat diperbaiki di naskah berikutnya. Pemimpin juga harus realistis. Ia perlu menghargai kinerja pengikutnya dan harmoni di dalamnya. Hal-hal pragmatis dapat dilakukan tanpa melanggar norma dan etika. Ketidaksempurnaan adalah bagian dari kehidupan dan penghargaan sesama.

Love arises from our imperfection, from our being different and always in need of the forgiveness…  Eugene Kennedy

Egois vs sosial

Karakter ego penulis atau pemimpin boleh saja menonjol.  Ego adalah bagian dari lahirnya karakter positif seseorang, untuk mendorong lahirnya hal-hal baru yang bermanfaat untuk banyak orang.  Namun ego itu harus diletakkan pada tempat atau konteks norma dan etika sosial. 

Penulis atau pemimpin harus mampu membaca norma dan etika yang berkembang.  Kepiawaian meletakkan ego di dalam norma dan etika, menjadi nilai lebih seorang penulis atau pemimpin. Penulis atau pemimpin seolah menjadi fasilitator, yang memandu lahirnya gagasan atau perubahan oleh pembaca atau anggota masyarakat. Penulis secara cerdik membawa pembaca seolah “larut” dalam gagasannya sendiri.  Hal sama, pemimpin akhirnya dapat menyaksikan inisiatif anggotanya menjalankan gagasannya. 

Kacau vs teratur

Ada orang yang punya karakter kacau. Orang seperti ini biasanya ekspresif, eksplosif, asal omong, berpikir jauh (out of the box) atau mungkin sedikit aneh.  Karakter seperti ini sering ditemui pada penulis atau pemimpin. Nilai lebih karakter ini adalah kemampuan menghasilkan gagasan yang cemerlang dan menemukan momentum. 

Karakter ini harus dikelola dan dikomunikasikan dengan baik dalam kerangka norma dan etika.  “Kekacauan” itu harus dikondisikan menjadi komunikasi yang teratur dan memenuhi rasio dan kaidah akademik. Penulis memanfaatkan hal ini dengan membangun alur dan penekanan tema tulisannya.  Sementara pemimpin menggunakannya untuk mendinamisasikan organisasi, mendorong perubahan, atau mencegah kondisi stagnan.  Kekacauan itu harus diimbangi dengan metodologi untuk memenuhi kaidah ilmiah dan iptek.  Kebutuhan untuk mengupdate iptek harus terpelihara dalam kerangka berpikir penulis atau pemimpin.

Detil vs umum

Profesionalisme identik dengan penguasaan kompetensi dilandasi ilmu pengetahuan. Ini membutuhkan penguasaan substasi yang detil, unik atau canggih. Hal ini sering tidak terpenuhi oleh peran manajerial semata yang umumnya berorientasi kurang detil. Karena itu, kehidupan dunia manajerial tidak dapat memenuhi lahirnya pemimpin atau penulis. Manajer sering dikaitkan dengan stabilitas, ini sering tidak cocok dengan kehidupan penulis dan pemimpin.

Penulis atau pemimpin harus menguasai hal-hal detil layaknya seorang entrepreneur. Mereka harus menjadi entrepreneur, yang cara hidupnya selalu berorientasi manfaat dan memberi nilai tambah kepada masyarakat luas. Mereka perlu menggali hal-hal detil, berimprovisasi dan unik untuk membangun keunggulan agar mampu kompetitif. Pembaca akan menemukan kekuatan karakter penulis dari hal-hal detil, rinci atau teknis. Pengikut juga akan menemukan pembelajaran, nilai tambah dan transfer knowledge dari pemimpin yang menguasai kompetensi. Hal ini membuat karya penulis memiliki keunggulan. Suatu organisasi juga cepat maju dan berkembang.

Otak kiri vs otak kanan

Otak kiri dihubungkan dengan fungsi berpikir logika atau analisis yang mengarah kepada intelegensia. Otak kanan menjalankan fungsi perasaan, imajinasi, atau moral; mengarah kepada emosional dan spiritual. Kombinasi pemanfaatan fungsi otak kiri dan kanan harus ada pada diri penulis dan pemimpin.

Intelegensia penulis dan pemimpin diperlukan untuk menguasai substansi dan gagasan, membangun logika, analisis dalam hubungan penguasaan kompetensi.   Emosi dan spiritual diperlukan untuk membangun kreativitas dan mengimplementasi gagasan ke dalam masyarakat sesuai dengan norma dan nilai-nilai sosial. Kombinasi otak kiri dan otak kanan akan menghasilkan penulis dan pemimpin yang punya kesalehan individu dan kesalihan sosial.

Malang, 1 Februari 2018

Sumber foto ilustrasi  

Penulis menulis buku:

  • Iwan Nugroho. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p. ISBN 978-602-9033-31-1
  • Iwan Nugroho dan Rokhmin Dahuri. 2012. Pembangunan Wilayah: Perspektif ekonomi, sosial dan lingkungan. Cetakan Ulang. Diterbitkan kembali oleh LP3ES, Jakarta. ISBN 979-3330-90-2 
  • Iwan Nugroho dan Purnawan D Negara. 2015. Pengembangan Desa Melalui Ekowisata, diterbitkan oleh Era Adicitra Intermedia, Solo. 281 halaman. ISBN 978-602-1680-13-1 
  • Iwan Nugroho. 2016. Kepemimpinan: Perpaduan Iman, Ilmu dan Akhlak. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p. ISBN 9786022296386
  • Iwan Nugroho.  2013.  Budaya Akademik Dosen Profesional.  Era Adicitra Intermedia, Solo.  169p.  ISBN 978-979-8340-26-0