gstatic.com

Tersebutlah sebuah kisah tentang dua sahabat yang lama tidak berjumpa, yakni Heri dan Budi.  Mereka berjumpa pun tidak sengaja, ditempat yang tidak diduga pula.  Mereka bertemu setelah sholat ashar di sebuah masjid di luar kota.  Mereka telah berpisah hampir dua puluh lima tahun, setelah menamatkan dari sekolah SMA yang sama.  Dua sahabat itu kini tinggal di kota yang berbeda.  Mereka pun saling bercerita, tentang keluarga, pekerjaan, dan karier dalam reuni dadakan di teras masjid.  Mereka berdua sangat beruntung karena dirahmati Allah dengan karier yang sama-sama cemerlang, menduduki jabatan menengah di kantornya masing-masing.

“Aku baca facebook, kamu sudah berangkat haji”, kata Heri.  “Alhamdulillah Bud, dua tahun yang lalu” , jawab Budi.  “Lho, sama dengan aku” sahut Heri.  Kedua sahabat itu saling tertegun berpandangan.  “Dimana maktabmu? Aku di Misfala” , sahut Budi.  Kemudian dibalas Heri, “Aku juga disana”.  Mereka pun sama-sama menyebut Subhanallah, seraya masing-masing menyampaikan keharuan beribadah haji dan menyelami kehidupan tanah suci.

“Bagaimana kabarnya Slamet? Aku dengar ia bekerja di kantormu”, Heri mengalihkan pembicaraan.  Slamet adalah teman mereka saat SMA.  Budi tertegun, sekaligus kaget dengan pertanyaan itu.  Budi merasa tidak nyaman ketika Heri menyebut nama Slamet.    “Ada apa Bud?”, desak Heri.  Budi menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya tidak mau menyinggung lagi nama Slamet.  Rasanya ada penyesalan dan keprihatinan terhadap Slamet.  “Baiklah, kita alihkan pembicaraan lain bila kamu tidak nyaman”, sahut Heri.  Budi membalas,“Bukan begitu Her, .. baiklah, saya akan cerita, … mungkin ini bisa bermanfaat untuk kita dan banyak hikmah bisa diambil dari pengalaman Slamet ini, untuk kita dan siapa saja”.  Akhirnya Budi pun bercerita tentang Slamet.  “Setelah tamat SMA, Slamet kuliah satu kampus dengan aku meski berbeda Jurusan.  Ia ambil manajemen, aku ambil elektro.  Di semester awal kita masih sering ketemu, namun sesudah semester lima, aku jarang lihat Slamet.  Ketika aku lulus, ia masih punya matakuliah.  Sejak itu aku sudah tidak dengar kabarnya lagi”.

“Lima tahun setelah aku kerja, Slamet mendatangi di kantor.  Ia minta bantuan untuk bisa kerja di kantor tempatku sambil menitipkan berkas lamaran kerja.  Ia mengaku mengundurkan diri dari pekerjaannya karena tidak cocok dengan atasan.  Dua minggu setelah bertemu itu,…terpengaruh karena belas kasihan dan sebagai teman, aku beranikan menghadap bos agar menerima lamaran Slamet.  Bos sebenarnya ragu karena Slamet tidak memiliki  ketrampilan.  Aku memohon dan memberanikan ke bos untuk menerima Slamet dengan garansi namaku”, kata Budi.

Selama dua tahun pertama bekerja, Slamet berperilaku biasa-biasa saja seperti karyawan umumnya.  Saat itu kondisi kantor juga sedang jaya-jayanya.  Kantorku relatif maju.  Namun kondisi ini segera berubah ketika setahun berikutnya kantor terimbas krisis ekonomi tahun 1998, kantor kami tidak mampu membayar pinjaman dolar, yang ketika itu menguat drastis.  Kantor pun terpaksa memPHK 50 persen jumlah karyawan, khususnya di bagian produksi dan pemasaran.  Aku dan Slamet tetap bertahan bekerja meski kantor memberi gaji hanya 40 persen dari sebelumnya.  Kebijakan manajemen, para karyawan yang bertahan diminta komitmen untuk bersiap memilih dan menemukan ketrampilan baru dengan produksi yang sama sekali baru.

Budi pun melanjutkan cerita.  Slamet menunjukkan perilaku yang berubah.  Awalnya ia sering menghilang dari tempat kerja, tanpa alasan yang jelas.  Pekerjaannya pun sering terbengkalai.  Wajah Heri mengernyit dan menegang seolah-olah mau bertanya.  Budi merubah posisi duduknya dan mendekat ke Heri.  Budi kemudian berkata: “Her aku ada pertanyaan, tidak perlu kau jawab, cukup renungkan saja. Apa tujuan hidup ini? Bukankan untuk ibadah, mengikuti sunah Rasul, memperbaiki akhlak.  Aku yakin dan pasti, kau punya jawaban yang positif. Semoga kita diberikan kekuatan untuk bersyukur, senantiasa memperoleh limpahan rahmat dan kasih sayang Allah”.  Heri tambah bingung dengan penjelasan Budi.

gstatic.com

Dengan hati-hati Budi menjelaskan, “Setiap kali kantor mengundang acara atau kegiatan tertentu, Slamet jarang muncul.  Di saat semua orang kompak bekerja penuh optimis, ia tidak bersemangat dan menghilang.  Kegiatan keagamaan di masjid jarang diikuti.  Ia jarang mau bersilaturahim dan kaku mengikuti irama dan organisasi kantor.  Slamet terlihat pesimis dengan upaya pembenahan perusahaan yang hasilnya mulai nampak.  Ia baru muncul ketika ada hal-hal untuk kepentingan dirinya, misal meminta SPJ, atau saat pembagian bonus tahunan.

Hubungan kerja Slamet dengan atasannya tidak baik, ke anak buahnya tidak bisa ngemong, tidak perhatian. Kata anak buahnya, Slamet tidak bisa bekerja, gaptek, selalu menuntut dan berpikiran ke uang melulu.   Slamet sering mengeluh, tidak mau belajar. Di kantor ia sering ghibah, membangun persepsi yang tidak sehat, ….  Ia berkelompok dengan orang-orang yang malas bekerja.   Ia kurang menunjukkan rasa syukur terhadap apa yang diterima. Slamet nampaknya telah menutup pintu rejekinya sendiri. Ia menutup pintu-pintu rahmat dari Allah.

Bos sempat marah karena perilaku tidak produktif Slamet, dan minta pertanggungjawaban garansiku saat awal Slamet bekerja.  Padahal bosku orangnya baik. Aku sudah sering mengingatkan Slamet, bahwa bos kecewa dengan kinerjanya, namun ia sama sekali tidak berubah.   Setiap kali aku ajak bicara, ia hanya diam.  Perilakunya tambah negatif.  Ia juga berhutang ke perusahaan, dan selalu berkelit ketika ditagih.  Kantor juga sering didatangi debt collector untuk menagih hutang Slamet.  Sejak awal bekerja memang ia sangat konsumtif untuk membiayai gaya hidupnya.

Masjid Al Farabi Universitas Widyagama Malang

“Baik Bud, aku mulai paham tentang ceritamu.  Aku teringat pak Hafidz, guru agama SMA kita, pernah menyebutkan pintu-pintu rejeki, antara lain beristighfar, bertaqwa, beribadah, silaturahim, bersedekah, menghindari hutang, berakhlak dan membantu orang lain, pergi haji, dan memberi nafkah orang yang belajar” kata Heri.  Pak Hafidz memberikan teladan akhlak luar biasa.  Beliau suka memberi hadiah ke anak-anak masjid meski kondisi beliau kekurangan. Aku masih menyimpan buku pemberian beliau.  Kesederhanaan beliau membuat kita hormat dan kagum. Setiap selesai sholat, beliau sering menasehati agar kita menjadi orang yang bermanfaat, rukun, dan bersabar untuk saling menyayangi”, kata Heri.  Budi mengangguk sambil mengingat persahabatan mereka saat SMA.

Kata Budi, “Benar Her, kita bersyukur ditunjukkan jalan oleh Allah menyukai Masjid melalui bimbingan almarhum pak Hafidz.  Semoga Allah memberi rahmat kepada beliau”.  Dibalas oleh Heri, “Sejak itu, kita suka beraktivitas di masjid, pergi dari satu masjid ke masjid yang lain mendatangi pengajian.  Alhamdulillah, pintu rejeki kita dibukakan Allah melalui masjid. Hari ini pun Allah menakdirkan kita bertemu di masjid.  Kita perlu dan wajib wariskan kebiasaan ini ke keluarga dan anak cucu kita”.

“Kini bagaimana kabar Slamet?” lanjut Heri.  Budi terdiam lama, wajahnya merunduk dan bersedih.  Pelan-pelan dan sedikit bergetar Budi membuka mulut, “Slamet sudah meninggal delapan tahun yang lalu.  Ia kolap tidak sadar di ruang kerjanya tanpa seorangpun yang mengetahui.  Ia sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tidak terselamatkan, kemungkinan terkena serangan jantung.   Semoga Allah merahmatinya”.  Kedua sahabat itu menutup cerita itu dengan keharuan mendalam.  Reuni dadakan itupun berakhir.

Kematian tidak tahu kapan datang menjemput seseorang.  Bersegeralah memohon ampun, mendatangi masjid, bersilaturahim, membuka pintu-pintu rahmat dan rejeki.

Lembah Panderman, 27 Maret 2014