Dipublikasikan pada blog kompasiana, 2 Mei 2016

Bagaimana rasanya mengajar murid sekolah dasar (SD)? Inilah yang menjadi tantangan besar bagi seorang profesor.  Menghadapi mahasiswa adalah makanan sehari-hari, seminar di depan para pakar sudah biasa.  Tapi ini, profesor harus mengajar murid SD.  Wooow pasti menarik.

Program inilah yang digagas oleh koran Radar Malang, bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016, sekaligus memperingati 17 tahun berdirinya koran.  Ada 17 profesor di Malang yang dikerjai para wartawan untuk turun gunung, untuk mengajar di berbagai SD di kota Malang, Kabupaten Malang dan kota Batu.  Sekolah SD dipilih bukan di tengah kota, dimana para gurunya benar-benar berjuang untuk mendidik murid.  Harapannya para profesor memberikan motivasi, menanam karakter, menunjukkan jalan agar murid dapat mencapai cita-citanya.

Penulis diberi tugas untuk mengajar di SDN Merjosari 4, kota Malang, yang letaknya masih seperti lingkungan desa.  Pikiran juga sempat galau,.. mau apa? Ngajar apa ke murid? 

Senin pagi jam 7.30, penulis sudah tiba di sekolah.  Saat itu, murid dengan mengenakan pakaian adat/daerah sedang upacara bendera.  Menurut kepala sekolah, guru sangat diandalkan untuk mendidik atau mengajar murid, karena umumnya orangtua murid kebanyakan petani dan kurang memperhatikan pendidikan anaknya. 

Kepala sekolah menyatakan bahwa murid-murid dikumpulkan di lapangan, dan siap menerima profesor.  Haahh betapa terkejutnya,.. berarti ini bukan mengajar di kelas, bisa-bisa seperti orasi seperti kampanye caleg atau pilkada.  Penulis nggak mikir panjang, anggap saja ini latihan orasi kampanye … barangkali nanti ada parpol yang mau meminang..he..he.

Penulis akhirnya larut dalam lapangan bersama murid dan guru. Kepala sekolah sudah mengkondisikan dengan baik.  Suasananya benar-benar santai, para murid yang berjumlah 120 anak itu duduk di lapangan, sambil bercanda… namanya juga anak-anak.  Penulis lebih banyak berinteraksi, bertanya, atau menjawab dibanding memberi nasehat.  Penulis minta murid maju ke depan, dan memberi pertanyaan seputar Ki Hajar Dewantoro, Taman Siswa, termasuk semboyan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri andayani.  Umumnya murid paham hal tersebut.  Penulis juga meminta murid untuk menyebutkan nama temannya yang bisa menjawab suatu pertanyaan.  Ini juga agar suasananya menjadi “milik” anak-anak sendiri. Kami kebetulan sudah menyiapkan hadiah untuk mereka, untuk menghibur anak-anak ini.

Hal lucu terjadi saat bertanya ke salah satu murid. Dewa cita-citanya apa?  “Jadi pembalap”, katanya.  Waoow, ternyata anak-anak disini mengenal Rio Harianto.  Balapan F1 populer di daerah ini.  Ebit asalnya dari mana?  “Malaysia”, jawabnya tegas.  Penulis nggak percaya, sambil mengulang pertanyaan.  “Malaysia pak”, jawabnya lagi.  Akhirnya dijelaskan oleh guru, bahwa Ebit memang lahir di Malaysia karena ikut orangtua yang bekerja disana.   

Penulis sengaja memanggil murid yang menjadi pembawa acara upacara bendera, namanya Rahma.  Mengapa?  Karena suaranya begitu mantaab.  Penulis minta mengulang bacaan upacara.  “Upacara pengibaran bendera memperingati hari pendidikan nasional, 2 Mei 2016, dimulai.  Pembina upacara memasuki arena upacara”.  Luar biasa, ia ucapkan di luar kepala dengan mantab dan lancar, tidak grogi sama sekali.  Ini benar-benar calon pembawa acara.

Juga saat ditanya, siapa mau jadi profesor?  “Saya”, jawab anak-anak serempak.  Sungguh luar biasa.  Semoga ini menjadi doa, dan suatu saat terkabul.  

Namun ada hal yang membuat penulis mati kutu.  Pak, apa itu megalodon? Penulis kaget, .. apa ini ya.. penulis nyerah deh.. biar pak Guru saja yang menjelaskan.  Penulis tidak paham hal tersebut karena memang tidak menguasai.  Belakangan diketahui bahwa itu adalah sejenis binatang purba.   

Pengalaman penulis juga tidak berbeda dengan profesor lain.  Prof Candra (Dekan FE UB) terkaget-kaget dengan respon anak-anak, berinisiatif, dan berani mengemukakan pendapat.  Berani mengemukakan pendapat adalah bagian dari menyelesaikan masalah bangsa dan menciptakan kesejahteraan bangsa.  Prof. Maskuri (Rektor Unisma) kebingungan ketika ditanya, mengapa mandi pagi begitu dingin. Pertanyaan murid sungguh mengagetkan sekaligus menghibur.  Sementara Prof Imam Suprayogo (mantan Rektor UIN Malang), melihat bahwa murid SD lebih jujur dibanding mahasiswa S3.  Harusnya para profesor perlu merenung dan banyak belajar dari murid SD ini. 

sertifikat mengajar dari Jawa Pos

Umumnya para profesor bersepakat bahwa program profesor turun gunung ini sangat bermanfaat.  Nasehat yang diberikan ke para murid umumnya adalah belajar sungguh-sungguh, menguasai bahasa asing, patuh kepada orangtua dan guru, serta beribadah dan berdoa.

Penulis menjabat Rektor Universitas Widyagama Malang

Malang, 2 Mei 2016