Artikel telah terbit di majalah Pilar Universitas Widyagama Malang, Desember 2021

Tawadhu adalah sikap merendahkan diri, meletakkan diri lebih rendah dari orang lain, sekaligus sikap menghormati dan menghargai orang lain.  Memiliki sifat tawadhu berarti merasa diri kita orang biasa, sekalipun memiliki banyak kelebihan.  Banyak keutamaan dari sikap kerendahan hati, atau tawadhu.  

Berita yang sedang aktual adalah terpilihnya Jo Biden sebagai presiden Amerika yang baru, mengganti Donald Trump.  Persaingan pemilu presiden AS begitu sengitnya.  Suksesi kepemimpinan negara adidaya itu menyita perhatian orang seluruh dunia.  Ada yang menyebut pemilu AS ini rasa Indonesia, karena sengitnya pertarungan antar calon dan pendukungnya. 

Analisis bermunculan,  lebih berkenaan dengan gagalnya Trump dan kepemimpinannya.  Presiden Trump sebenarnya termasuk berhasil membawa ekonomi Amerika maju dan tumbuh.  Ia mampu memenuhi janji untuk membangkitkan kebanggaan warga Amerika.  Namun sejalan dengan waktu, perilaku presiden Trump nampaknya cenderung ceplas ceplos, agresif,  arogan dan kasar. 

Kata-katanya bisa sangat tajam terhadap wartawan.  Ia juga menyampaikan kata reaktif dan rasis saat menanggapi kritik atau tekanan kepada dirinya.  Trump juga menyerang Cina dan WHO dalam kasus penanganan pandemi COVID.   Kebijakan tembok perbatasan AS-Mexico memicu  kontroversi.  Perilaku kasar Trump sangat melukai, menghina dan telah melanggar norma kepresidenan.  Ini yang membuat kecewa dan menyinggung perasaan banyak orang

Kalau Trump tampil bak seorang jagoan yang agresif, tampilan Jo Biden biasa saja.  Joe Biden lebih mengandalkan pengalamannya sebagai politisi senior.  Ia seorang yang rendah hati, bisa bekerjasama mendampingi Barack Obama sebagai wakil presiden dua kali masa jabatan.  Ia menjadi sahabat Obama yang usianya hampir 20 tahun lebih muda.  Ia mengalah dan mendukung Hillary Clinton saat bertarung dengan Donald Trump pada pemilu presiden tahun 2016.

Saat mencalonkan presiden dua tahun yang lalu, motivasi Biden sangat sederhana.  Ia menyadari sudah sangat tua.   Ia maju karena kewajiban moral, ia ingin mengembalikan nilai-nilai jiwa dan moral negaranya (soul of the country).

Pengalaman presiden Donald Trump dapat menjadi banyak pelajaran dalam kehidupan terutama kepemimpinan.  Kepemimpinan lahir karena kekuatan atau pengaruh dari seseorang  yang bersumber dari tiga sifat, yakni  empathy (peduli, memihak), self-awareness (sadar diri), dan objectivity in dealing with others (obyektif).  Tiga sifat itu mencerminkan sikap tawadhu atau kerendahan hati.  Siapapun orang, terlebih seorang pemimpin, ketika egonya naik, arogan, agresif atau reaktif, maka ia sedang kehilangan sikap tawadhu.   Jo Biden mampu menujukkan kerendahan hati, dirinya seolah menjadi kekuatan moral bagi bangsanya.

Ciri-ciri orang yang rendah hati antara lain senantiasa peduli dan lembut, mengasihi orang-orang kecil dan wanita, mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri, selalu belajar dan tidak puas dengan ilmunya, sadar diri dengan bekerja keras agar memberi manfaat, meminta pertimbangan orang lain untuk menemukan obyektivitas.