Dipublikasikan pada blog Kompasiana, 10 September 2018
Apa jadinya bila seseorang tiba-tiba memberanikan diri naik di ketinggian. Pasti ia sedikit terkejut melihat sekeliling, melihat bumi yang ada di bawah. Apa lagi ia harus berjalan pada ketinggian. Itulah yang saya alami. Meski awalnya sempat menguasai keadaan, tetapi hati ini tidak bisa dibohongi, kaki rasanya juga gemetar, grogi melihat ke bawah. Pengalaman ini saya alami saat berkunjung ke Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung (Babul).
Kekayaan alam TN Babul ini luar biasa, baik flora, fauna atau keunikan/keelokan alamnya. Lingkungan karst, iklim dan faktor alam lainnya mendukung bagi habitat tumbuhnya kupu-kupu. Dataran dan pengunungan karst TN Babul seluas 43.75 ribu ha(1), mencakup/berbatasan dengan Kabupaten Pangkep, Barru, Bone; dan Maros.

Fauna yang khas di TN Babul ini adalah kupu-kupu. TN Babul dikenal dengan “The Kingdom of Butterfly”, karena memiliki jumlah dan keanekaragaman kupu-kupu. Ikon kupu-kupu ini dibangun di pintu gerbang masuk TN Babul dalam ukuran besar.
Sekitar 50 m dari pintu gerbang masuk, nampak sebuah bukit dengan sebuah jaring raksasa. Inilah tempat penangkaran kupu-kupu. Untuk masuk ke penangkaran, pengunjung dikenakan tarif lima ribu rupiah per orang. Pengunjung dikenakan tarif tambahan sebesar lima belas ribu rupiah bila mau naik ke Helena Sky Bridge.

Saat awal masuk pikiran saya hanya fokus ke kupu-kupu. Di penangkaran ini, ada sebuah bangunan lebih tepat sebagai rumah atau insektarium kupu-kupu. Disini didisplay ragam kupu-kupu, kepompong dan poster perihal siklus hidup kupu-kupu. Kupu-kupu yang dikeringkan tersaji apik, unik dan warna-warni. Ini dapat menjadi insprasi bagi ilmuan biologi, pelukis, disainer seni, atau advertising.

Dari insektarium, pengunjung disilakan masuk ke tempat penangkaran kupu alam. Penangkar raksasa ini berwujud bangunan permanen, dibatasi rangka besi kokoh, dan ditutup jaring-jaring raksasa. Jaring berguna untuk melindungi, memonitor tumbuh dan keberadaannya kupu-kupu. Tapi sayang, jaring itu sekarang rusak atau robek akibat terjangan angin puyuh.

Luasan penangkar itu kurang lebih sekitar dua hektar, dengan ketinggian sekitar 40 m. Fisiografinya bergelombang, sehingga cocok untuk orang-orang usia muda atau anak-anak. Jalurnya naik turun, terkadang sempit melalui celah batuan, dan sebagian mendaki atau menurun terjal.
Saat melewati jalur itu, saya mendengar riuh anak-anak muda. Saya hanya melihat jaring yang mengarah ke dinding bukit. Kiranya suara itu ada di bagian ketinggian yang lain. Tidak lama berjalan, akhirnya nampak jelas sebuah menara tinggi dimana suara itu berasal. Nampak anak-anak berseragam sekolah naik menara sambil tertawa dan bercanda.
Jalur yang saya lalui ini memang menuju ke arah menara itu. Ada sepuah papan petunjuk bertuliskan Helena Sky Bridge. Kiranya inilah tujuan utama wisatawan di penangkaran kupu-kupu ini. Saya terus mendekat ke menara. Begitu tiba, saya tertegun melihat jembatan tinggi. Haruskah naik? Mampukah? Pertanyaan ini berkecamuk dari hati. Akhirnya saya memutuskan, perlu dicoba naik. Memang, saat itu saya pengunjung paling tua yang masuk penangkaran kupu.
Saya pun manut (patuh) ketika petugas meminta saya menggunakan belt pengaman di tubuh. Saya lihat ke atas bukit sebuah tulisan logam HELENA SKY BRIDGE, yang ditanam pada dinding bukit dengan besi beton.
Saya pun beranjak naik ke atas menara, naik tangga, berpindah naik tangga lain,.. dan akhirnya tiba di puncak menara. Waoow lumayan tinggi, dengan lansekap pemandangan luas ke arah kota Maros. Kini tulisan HELENA SKY BRIDGE seolah sejajar dengan mata. Inilah saatnya berjalan di jembatan, dalam hati.
Tapi ternyata petugas menarik belt untuk dikaitkan dengan tali baja yang membentang sepanjang jembatan. Hhhmmm.. beruntung saya tidak lepas dari jangkauan petugas itu. Kalau lepas mungkin saya berjalan tanpa pengaman.
Sebelum berjalan sejenak saya mengamati sekitar. Saya baru mengerti, jembatan HELENA SKY BRIDGE dibangun di antara dua menara yang dibangun di atas batuan/atau bukit kecil. Antar menara itu dibentangkan tali baja sebagai penahan jembatan. Tidak hanya itu, bentang tali baja itu juga sebagai penahan diletakkannya jaring raksasa yang berada di bawah jembatan. Kini jelas sudah, bentang tali baja itu punya fungsi untuk rekreasi/adu nyali, sekaligus untuk penangkaran kupu.
Tempat berpijak kaki di jembatan adalah papan kayu. Papan kayu diikat tali sehingga membentuk sambungan papan. Papan ini sedikit fleksibel menahan baban berat badan. Meski sudah didisain aman, pengunjung harus waspada dan tenang ketika kaki menginjak kayu.


Saya pun berjalan pelan di atas jembatan, dengan dua tangan memegang tali baja. Beberapa saat saya juga melepas tangan kanan untuk memainkan kamera, untuk mengabadikan momen langka ini. Pandangan kiri, kanan dan ke atas adalah udara bebas. Sementara pandangan ke bawah adalah kanopi jaring raksasa.

Konsentrasi memegang tali baja, serta sibuk pengamati pemandangan, membuat saya lupa melihat pemandangan ke bawah. Padahal saya termasuk orang yang sedikit takut ketinggian Itu terjadi hingga berjalan sekitar sekitar 30 meter. Sisa 10 m menuju ujung jembatan, seolah kesadaran memulih sepenuhnya, termasuk muncul rasa takut. Saya pun sedikit grogi, kaki agak bergetar. Kaki berjalan seolah tidak seimbang.
Beruntung ini terjadi tidak lama, karena seorang petugas muncul melihat saya sedikit ragu. Anehnya justru saya memberi kamera ke petugas itu.
“Mbak, saya tolong difoto ya, yang bagus ya”, sementara saya mundur balik ke jembatan untuk menemukan pose yang pas.
Perasaan lega bercampur senang, begitu petugas melepas belt pengaman. Saya pun turun dari menara mengakhiri perjalanan ini. Rasanya ini pengalaman yang langka.
Malang, 10 September 2018
***
Buku yang sudah diterbitkan:
- Iwan Nugroho. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p. ISBN 978-602-9033-31-1
- Iwan Nugroho dan Rokhmin Dahuri. 2012. Pembangunan Wilayah: Perspektif ekonomi, sosial dan lingkungan. Cetakan Ulang. Cetakan 1 tahun 2004. Diterbitkan kembali oleh LP3ES, Jakarta. ISBN 979-3330-90-2
- Iwan Nugroho. 2013. Budaya Akademik Dosen Profesional. Era Adicitra Intermedia, Solo. 169p. ISBN 978-979-8340-26-0
- Iwan Nugroho dan Purnawan D Negara. 2015. Pengembangan Desa Melalui Ekowisata, diterbitkan oleh Era Adicitra Intermedia, Solo. 281 halaman. ISBN 978-602-1680-13-1
- Iwan Nugroho. 2016. Kepemimpinan: Perpaduan Iman, Ilmu dan Akhlak. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p. ISBN 9786022296386
- Iwan Nugroho. 2018. Menulis, Membangun kekuatan dan motivasi kehidupan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 155p. ISBN 9786022299271