Dipublikasikan pada blog kompasiana, 3 November 2016
Power is of two kinds. One is obtained by the fear of punishment and the other by acts of love. Power based on love is a thousand times more effective and permanent then the one derived from fear of punishment. Mahatma Gandhi
Fenomena kepemimpinan memang unik atau bisa beragam. Kehidupan kepemimpinan bisa dilihat dari sosok populer di khasanah nasional hingga lokal, dunia bisnis hingga kampus, tokoh politik hingga birokrat, agamawan hingga budayawan, selebriti hingga akademisi.
Diantara para pemimpin itu menampilkan sosok yang positif dan disukai, memberi pengaruh yang baik dan menginspirasi orang menjadi maju. Namun ada juga para pemimpin itu yang sosoknya dipandang banyak orang senantiasa kontroversi, tidak proporsional, atau tidak menyenangkan. Alasan obyektif atau subyektif masyarakat umum ikut memberi penilaian kepada sosok pemimpin.
Terlepas dari tugas dan tanggungjawabnya, jabatan pemimpin memang enak, memiliki privilej, menerima fasilitas dan tunjangan, atau menerima kehormatan tertentu. Namun jabatan perlu dikelola dengan baik. Mengapa? Karena jabatan itu menggoda. Jabatan itu seperti wanita cantik, akan menggoda atau menarik si pemimpin, sehingga pemimpin bisa terbius dan lupa diri. Padahal jabatan itu bukan pasangan hidup, suatu saat harus dikembalikan kepada pemberi amanah.
Bagaimana tanda-tanda pemimpin yang tergoda dengan jabatannya. Mudah saja menjawabnya, yaitu pemimpin yang lupa diri, yang kehilangan karakter. Pemimpin itu tiba-tiba saja berubah total dari kondisi sebelumnya. Yang sebelumnya masih baik-baik saja, kemudian menjadi wah… ketika jadi pemimpin. Bahkan ketika jabatannya sudah selesai, ia tetap lupa diri..seolah masih menjadi pemimpin.
Bagaimana keadaan pemimpin yang tergoda jabatannya itu.
Minta fasilitas. Karena jabatan itu sosok yang cantik, maka kecantikannya memerlukan perawatan dan pemeliharaan. Apa maknanya? Itu perlu biaya dan energi untuk memelihara. Pemimpin biasanya meminta fasilitas yang lebih atau mewah. Fasilitas fisik, fasilitas keamanan, atau fasilitas hiburan diperlukan agar pesona kecantikan jabatan itu terlihat keren. Ia minta mobil mewah, rumah mewah, butik mewah, restoran mahal agar sepadan dengan sosok kecantikannya. Ironisnya masih banyak pemimpin yang sudah mantan, masih minta privilej itu.
Tidak mau disaingi. Seorang yang cantik, ia tidak mau disaingi orang lain. Ia tidak mau bila ada orang memakai baju, kosmetik, mobil atau asesories yang sama. Pemimpin demikian biasanya sangat parno ketika harus mau tampil. Ia harus tampil cling..ingin sempurna secara fisik. Setelah itu ia ekspose atau pamer tampilannya..agar menunjukkan kesan wah dan berbeda dengan orang lain. Inilah gue..he..he.
Tidak menambah ilmu. Karena hanya sibuk ngurusi pesona fisiknya saja, sosok cantik kehabisan energi untuk merawat kemampuan otaknya, ilmu dan ketrampilannya. Ia terlihat ketinggalan perihal pengetahuan dari kompetensinya. Ia akhirnya mengandalkan orang lain atau timnya untuk menyelesaikan tanggungjawabnya. Ia tinggal membayar orang, menjadi transaksional, dan membebani anggaran. Ia bagaikan sosok cantik yang bodoh. Bahkan ia tidak tahu sedang dibodohi oleh timnya. Hingga akhirnya ia dijerumuskan oleh orang-orang sekelilingnya.
Cenderung mempertahankan jabatan. Siapa yang tidak senang dengan kecantikan jabatan? Jabatan pasti dipeluk erat-erat, dan tidak dilepaskan sedetikpun. Ia pertahankan jabatan sekuat tenaga. Ia pasang orang-orang yang setia kepadanya, untuk memperkuat dan melindungi kepemimpinan dan jabatannya. Sebaliknya ia bersikap keras, kasar dan arogan kepada orang-orang lain.
Tidak cinta umat. Karena pemimpin hanya mencintai jabatannya, maka ia tidak menduakan cintanya itu. Baginya, jabatan adalah segalanya sehingga ia akan korbankan umat keseluruhan. Ia bisa bersikap keras dan tega, atau mengancam orang lain. Tidak ada cinta kepada umat. Kita masih ingat sejarah Hitler, saat mendekati kejatuhannya ia mobilisasi warga Berlin, merekrut anak-anak mengangkat senjata untuk mempertahankan kekuasaan. Banyak pemimpin saat ini yang mengikuti jejak Hitler ini, demi untuk kepentingannya sendiri, memobilisasi massa termasuk anak-anak untuk berdemo, mengorbankan kepentingan orang lain, kepentingan bangsa dan negara.
Wahai pemimpin, yang cantik itu nanti juga berubah. Jabatan itu tidak abadi. Pengaruh anda nanti juga hilang. Nama anda akan harum atau dikenang kalau anda mencintai umat, bersikap lembut, dan menunjukkan ilmu dan akhlak yang mulia.
Wahai para pengikut, jangan silau dengan pemimpinmu. Kalau pemimpinmu itu hidupnya bermewahan, tidak lembut, berarti ia tidak mencintaimu, akhlaknya dipertanyakan.
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (At-Taubah:119)
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (At-Taubah:119)
Malang, 3 Nopember 2016
Penulis buku Iwan Nugroho. 2016. Kepemimpinan: Perpaduan Iman, Ilmu dan Akhlak. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p. ISBN 9786022296386