Pembaca mungkin mengenal nama Tamarine Tanasugarn.  Ia adalah nama petenis putri Thailand, yang memenangkan berbagai kejuaraan di tingkat Asia dan dunia.  Ia masuk 20 petenis wanita top dunia pada tahun 2002, dalam nomor single atau double.  Sebelum itu, nama Tamarin juga populer yang merujuk kepada produk permen rasa asam.  Produk itu diiklankan secara secara meluas.

https://www.businesstimes.com.sg/

Nama Tamarin sudah umum dan populer.  Nama itu sesungguhnya sudah kita kenali.  Itu adalah nama dari buah asem, atau disebut sebagai asem jawa, yang dihasilkan oleh pohon asam (Tamarindus indica).  Buah asam digunakan untuk beragam manfaat, misal sayur asem, makanan, minuman, jajanan, obat, jamu, atau perawatan tubuh.  Kayu dari pohon asam bisa untuk keperluan bangunan dan konstruksi.  Pohon asem adalah vegetasi tropis, yang dapat ditemukan di berbagai negara termasuk Indonesia.  Di setiap negara itu, berkembang nama lokal dan mewarnai kehidupan masyarakat dan budaya setempat.

Namanya buah asam, pasti memberi kesan rasa asam, kecut, getir di lidah.  Sama halnya dengan makan buah mangga muda, jeruk, atau buah yang masih muda.  Buah yang masih muda memiliki kandungan asam dan tanin yang tinggi.  Dengan berjalannya waktu, buah akan menjadi lebih matang dan  kandungan asam dan taninnya berkurang.  Bersamaan dengan itu, kandungan gula meningkat dan menghasilkan rasa manis pada buah.

Memahami buah asem sebagai bagian budaya memiliki nilai filosofi mendalam.  Nilai filosofi kemanfaatan buah asam memberikan nilai-nilai positif untuk membangun cara berpikir, bersikap dan berperilaku.  Memaknai rasa asam sangat kuat hubungannya dengan kehidupan.  Kesan atau persepsi seperti ini sering muncul digunakan untuk memaknai hal-hal yang tidak nyaman atau tidak sesuai keinginan.  Penulis memandang bahwa sesuatu yang baru, ide baru, atau ilmu baru senantiasa menciptakan rasa tidak nyaman.  Senantiasa ada konflik paling tidak di dalam hati, antara rasa puas dengan kondisi yang ada dengan keinginan untuk berubah mempelajari hal-hal baru.  Memasuki dunia baru atau perubahan memang membuat hati kecut, seperti makan buah asam.  Namun bila perubahan itu dijalani, maka dipastikan akan ada manfaat yang luar biasa.  Sebagaimana pepatah umum: “Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri”.  Perubahan itulah yang membuat kehidupan itu berjalan sebagaimana mestinya, kehidupan ekonomi berputar, kehidupan sosial menemukan harmoni, dan ekosistem berfungsi.  lingkungan menyediakan ekologi berfungsi

Dalam kehidupan organisasi, setiap orang harus berani melakukan perubahan.  Perubahan yang dilandasi ilmu pengetahuan dan kebutuhan rasional obyektif.  Karenanya, seseorang harus menguasai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu-ilmu keagamaan, agar ia mengetahui, dengan menggunakan kepekaan dan kearifan, menjalankan perubahan yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.  Kearifan orang berilmu itu mampu memahami sesuatu yang pahit sebagai suatu keniscayaan, menjangkau hal-hal positif dibalik hal yang negatif, melihat kemudahan dibalik suatu kesulitan.  “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah:5-6).

Keengganan orang berubah menunjukkan bahwa ia sedang menggunakan rasio dan persepsinya sendiri.  Ia melihat buah asam yang rasanya memang asam.  Ia tidak mau memahami, buah asam pada akhirnya juga akan berubah menjadi matang hingga rasanya menjadi manis.  Hatinya tidak terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan ilmu agama.  Ia akan mencari alasan-alasan pembenaran untuk mempertahankan kepentingannya.  Ia punya seribu alasan, selalu banyak omong, mengeluh dan menyalahkan orang lain.  Ia cenderung menggunakan pikiran-pikirannya dibanding bertindak dan bekerja.  Orang-orang ini sulit untk diajak maju, senantiasa menjadi pengganggu jalannya organisasi.

Filosofi buah asam menunjukkan bahwa setiap orang hendaknya bersabar untuk memahami sesuatu yang baru.  Buah asam memang rasanya asam, namun bila dengan sabar memaknainya, maka buah asam atau pohonnya memberi manfaat yang luar biasa bagi kehidupan.  Filosofi buah asam itu berlaku untuk orang yang sedang belajar, sedang menjalankan perubahan, atau hijrah kepada kebaikan.  Mereka itu akan merasakan hal-hal yang tidak enak, berjuang, bekerja keras, belajar mati-matian.  Semuanya perlu pengorbanan.  Mereka tahu itu semua pahit, tetapi tetap harus dilakukan.  Mereka mendengar (ilmu dan kebenaran), dan taat menjalankannya.   Sami’na wa atho’na.

Lembah Panderman, Malang, 2 Februari 2014