Ya ayyuhalladzina amanu ittaqu Allaha haqqa tuqatih, wa la tamutunna illa wa antum muslimun. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kamu mati, melainkan dalam keadaan beragama Islam (QS. Ali ‘Imron:102)
Mengakhiri bulan Ramadhan ini dengan baik, aman dan indah sebagaimana tuntunan Allah, sangat didambakan semua muslim. Setiap muslim mendambakan predikat mutaqqin, terlepas dari belenggu-belenggu dunia, dan terbebas dari siksaan api neraka. Seorang yang muttaqin adalah orang yang telah menjiwai nilai-nilai kebenaran, dan setiap perilakunya menunjukkan realisasi keimanan dan moralitas yang tinggi. Ia telah melalui proses ibadah puasa dan ibadah lainnya hanya untuk Allah sekaligus telah memberi makna dalam kehidupan sosialnya. Manusia dengan jiwa yang bersih, sebagaimana kembali ke asal saat penciptaan manusia. Berlebaran yang dilandasi ketaqwaan akan menghasilkan manfaat individual dan sosial yang nyata, aman dan indah.

Semua orang berharap lebaran yang aman dan indah. Bertemunya setiap muslim dengan hati yang bersih dalam silaturahim yang hangat dan gembira. Bertemunya sanak saudara, anak dengan bapak, adik dengan kakak, cucu dengan buyut, dan teman dengan handai taulan. Saling bersalaman, kabar-kabari, memberi dan berbagi, dan tentu memaafkan. Lahir kegembiraan dengan balutan khusuknya beribadah, memuji kebesaran Allah, senantiasa bersyukur kepada Allah.

Sebaliknya, tidak seorangpun ingin suasana lebaran yang muram, sedih, atau dalam suasana kekuatiran. Kuatir dari rasa aman, nyaman. Merasa tidak lapang menjalankan ibadah, atau aktivitas lainnya. Orang menjadi tidak nyaman saat mudik, perjalanan mudik terasa menyiksa. Tidak ada rasa syukur, merasa kurang. Orang menjadi tidak sabar, silaturahim diliputi keraguan, atau hal-hal lain yang mengganjal. Kedaan inilah yang menimbulkan banyak kerugian dan kekecewaan. Hasilnya hanya rasa lelah, emosi/amarah, .. bahkan celaka.
Bagaimana seharusnya berlebaran yang aman dan indah. Berikut beberapa hal yang disarankan.
- Menciptakan rasa tenang. Berlebaran, sejak persiapannya dalam bulan Ramadhan, sudah menciptakan kesibukan pikiran, sikap dan perilaku. Tidak sedikit yang saking sibuknya, justru mengganggu puasa dan ibadah lainnya. Ketenangan tercipta dengan senantiasa bersyukur, berdzikir, berpasrah diri, dan yakin akan pertolongan Allah.“Hai jiwa yg tenang kembalilah kepada Tuhanmu dgn hati yg puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”(QS. Al-Fajr: 27-30). Dengan rasa tenang, seseorang tidak perlu berlebihan menyambut lebaran kecuali hanya mementingkan silaturahim karena Allah. Bukan harus mengada-adakan hal-hal yang materiil semata.
- Memohon doa kepada Allah. Sebaiknya terus memohon doa kepada Allah, segala kesalahan diampuni; puasa, amal dan ibadah lainnya diterima; diberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan. “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Al-Mu’min: 60). Bulan Ramadhan hendaknya menghasilkan manusia-manusia baru yang berideologi Allah, hanya berorientasi kepada Allah, meminta kepada Allah, sebagai landasan kehidupan.
Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk terus meningkatkan ketaqwaan.
Kepada bapak, ibu, saudara, sahabat, kolega, handai taulan, penulis mengucapkan Selamat Idul Fitri 1433H, taqabballahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan bathin.
Lembah Panderman, 15 Agustus 2012.