Sebuah tulisan dapat mencerminkan kompetensi penulisnya.  Kompetensi itu paling sedikit muncul dari dua sumber, yakni tentang kompetensi itu sendiri, dan cara bagaimana ketrampilan menyajikan tulisan sehingga mudah dibaca.   Itu sebabnya, sebuah tulisan bersifat unik, cermin kombinasi dua sumber tersebut.

Karena itu,  sebuah tulisan yang  dikategorikan baik, dipastikan ditulis orang-orang yang kompetensinya baik, dan punya pikiran/ketrampilan/cara menyajikan tulisan dengan baik.  Kita semua senang dan tercerahkan dengan tulisan-tulisan segar Dahlan Iskan.  Beliau punya pengalaman dan kompetensi dalam dunia manajemen bisnis.  Beliau juga trampil menulis dengan bahasa sederhana, dan mudah dimengerti.  Dalam dunia akademik, penulis mengenal guru besar Ilmu Tanah dari IPB Bogor, namanya Prof Goeswono Soepardi (almarhum).  Pada jamannya, sekitar 1970-1990, beliau menulis buku, artikel, dan opini koran, dengan bahasa yang lugas. 

Penulis senang membaca tulisan tentang sustainable development dari Ismail Serageldin, orang Mesir yang pernah menjadi vice president dari Bank Dunia (1993–2000).  Beliau salah satu dari sekian ilmuwan, yang menjadi pionir mempromosikan konsep pembangunan berkelanjutan, dan menjadi pegangan Bank Dunia bekerja membantu khususnya negara berkembang.  

Seorang akademisi, apapun bidangnya, perlu berlatih, sungguh-sungguh, dan berusaha menyajikan tulisan yang  dikategorikan baik.  Tulisan yang baik memiliki standar; dan siapa yang mempu memenuhi standar itu maka tulisannya dianggap baik, dan penulisnya berkompeten.  Bagi seorang dosen, standar tulisan yang baik harus dikejar dan diproduksi. 

Bagi seorang dosen, menulis artikel ilmiah harus dilakukan setiap periodik.  Menulis tidak harus menunggu saat kenaikan jabatan akademik.  Ini semua diatur dalam Keputusan Dirjen Dikti 12/E/KPT/2021 tentang Pedoman Operasional Beban Kerja Dosen Tahun 2021.

Nah, khusus yang mau naik jabatan akademik, perlu bekerja lebih keras dan telaten.  Standar tulisan/artikel yang baik adalah Scopus.  Sekalipun banyak perdebatan tentang Scopus, pastinya Scopus adalah benchmarking tulisan yang baik dan penulis yang berkompeten.  Seorang dosen membutuhkan kesiapan mental bermain di arena Scopus, dengan belajar sungguh-sungguh untuk mulai mengenali Mendeley, mensitasi artikel Scopus, memahami submission, dan memahami seluk beluk author guideline jurnal Scopus.  Bagi pengusul Lektor Kepala dan Profesor, diusahakan agar bermain di arena minimal Scopus Q3, agar terhindar dari peluang Scopus discontinued.

Iwan Nugroho, Ketua Tim PAK Universitas Widyagama Malang