Mengajar matakuliah manajemen SDM (MSDM) sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, karena ini menyangkut SDM, sumberdaya paling potensial dan penting dalam organisasi.  SDM dimanapun hidup atau bekerja, dalam jaman modern sekarang ini, pasti terikat  suatu kerangka organisasi atau kelembagaan tertentu, dan segala perangkat aturannya.  SDM atau seseorang tidak bisa lagi hidup sendiri, ia harus mematuhi mekanisme kehidupan organisasi tertentu.  Berhasil atau tidaknya suatu organisasi berkembang, tergantung kualitas SDM termasuk kepatuhan SDM bersama-sama mencapai visi dan tujuan organisasi. 

Karenanya SDM harus dikelola dengan baik.  SDM harus paham tentang posisinya dan bagaimana berperan dalam organisasi.  Mengelola SDM atau MSDM memerlukan konsep yang benar.  Yang mengelola SDM harus mengerti fungsi MSDM, paham tentang kedudukan SDM dalam organisasi, menguasai tentang organisasi.  Rumit amat!  Bukan, sangat wajar agar tercipta SDM yang baik, smart dan trampil, maka diperlukan pengelola (manajer atau leader) yang baik dan benar.  Ini sangat wajar atau adil, bahwa dalam organisasi maka yang dikelola dan yang mengelola harus sama-sama benar dan baik.  Jadi semua pihak harus berada dalam jalan yang sama menjalankan  fungsinya.

Apa nikmatnya ngajar MSDM? Pertanyaan ini sekilas tidak ada relevansinya dengan MSDM.  Tapi disinilah ada ruang kenikmatan yang luar biasa.  Apa itu?  Yang penulis hadapi adalah mahasiswa S1, yang usianya masih sangat muda.  Usia yang tepat untuk mulai bisa menganalisis dan sintesis.  Mereka adalah SDM potensial, yang kelak akan memberikan perannya dalam organisasi pekerjaan atau masyarakat.  Mereka perlu menyerap pengetahuan MSDM yang utuh, baik sebagai obyek maupun  subyek.  Kepada mereka perlu ditanamkan agar menjadi manusia-manusia yang mengenal dan patuh kepada lingkungan dan organisasi.   

Memang, mahasiswa sekarang berbeda dengan mahasiswa dahulu.  Dahulu, sumber informasi belum meluas seperti sekarang.  Dahulu kehidupan masih mengandalkan budaya dari kebiasaan rumah orangtua dan organisasi kehidupan kampus.  Kini, ada alternatif budaya baru yang dipatuhi oleh mahasiswa, berupa ketergantungan teknologi informasi dengan variasi dan implikasinya.  Hal ini yang mengakibatkan kepatuhan mahasiswa terhadap organisasi ‘lama’ menjadi lemah, sebaliknya mereka menerima budaya gadget, atau budaya media sosial yang membius hampir semua orang.  Inilah mengapa mengajar MSDM menjadi menarik dan menantang.

Membahas MSDM harus dikaitkan dengan organisasi.  MSDM adalah bagian strategis dari organisasi.  Maju mundurnya organisasi sangat tergantung dari SDM.  Organisasi maju bukan karena sistemnya baik, bukan karena gedungnya mentereng, bukan karena punya fasilitas lengkap, bukan karena uangnya banyak—akan tetapi oleh kepatuhan SDM, kontribusi SDM kepada organisasi, manfaat sosial dari SDM.  Dasgupta (2007) menyatakan SDM cerdik bukan jaminan bagi pertumbuhan ekonomi. SDM yang cerdik perlu meletakkan dirinya, atau membumi dalam kerangka organisasi. Organisasi inilah yang membawa dan menjamin keberlanjutan pertumbuhan dan kemajuan.  Jelasnya SDM yang pandai, trampil, rajin harus memberikan kelebihannya untuk kemanfaatan kepada organisasi.

Contoh-contoh kehidupan nyata dapat memberi inspirasi agar mahasiswa memahami MSDM, dan dapat menempatkan diri sebaik-baiknya untuk patuh kepada organisasi.  Pengalaman penulis mengelola orang menjadi contoh, dan memperkaya deskripsi materi kuliah.  Contoh atau praktek yang benar SDM yang potensial adalah (misalnya) rendah hati, sabar, hormat ke orang tua atau guru, berintegritas, suka membantu orang lain, disiplin, terus belajar, dan memahami organisasi. 

Sikap positif ini perlu dilatih dan dipraktekkan sejak usia mahasiswa.  Itu adalah sikap atau adab orang yang mencari dan menuntut ilmu.  Bila usia mahasiswa tidak mampu menyerap sikap-sikap positif tersebut, jadinya adalah generasi loyo, pecundang dan tidak produktif.  Seumur hidupnya akan lemah, tidak bisa diandalkan, dan tidak diterima organisasi.  Ia tidak mungkin bisa menjalankan amanah dengan baik dan penuh tanggungjawab. 

Usia mahasiswa sangat menentukan kehidupan seseorang kelak.  Penulis punya banyak teman, yang hidupnya kini sukses, berilmu, mendapat amanah, dan diterima lingkungannya.   Itu sebenarnya telah terlihat atau tertanam sejak mereka masih mahasiswa.  Mereka tangguh menghadapi cobaan, sabar, jujur, alim dan rendah hati, meski tidak tergolong pintar.  Sejak dahulu selalu menyenangkan orang, ucapannya jujur dan santun.

Sisi lain MSDM adalah pengelolanya.  Siapa itu? Mereka adalah leader atau manajer pada semua jabatan dan tingkatan yang menjalankan fungsi MSDM atau memiliki tanggungjawab terhadap SDM dibawahnya.  Sekali lagi mereka ini juga harus benar dan baik.

Contoh atau praktek leader atau manajer yang benar adalah sama seperti menjadi SDM yang baik, yakni (misalnya) rendah hati, sabar, hormat ke orang tua atau guru, berintegritas, ngemong, disiplin, terus belajar, dan memahami organisasi.  Sikap positif ini juga perlu dilatih dan dipraktekkan sejak usia mahasiswa.  Itu adalah sikap yang perlu dimiliki oleh calon pemimpin.  Sikap positif ini harus melebihi rata-rata orang, agar ia memang terbukti nyata memiliki kelebihan khususnya dalam aspek sosial, menjadi teladan, ngemong dan tanggungjawab.  Sikap lebih lainnya adalah kemampuan berkomunikasi, memotivasi, berinovasi dan memberi kesempatan orang lain.  Sikap itu harus dilatih dan ditanam sejak usia muda agar ini memiliki signal dan akhlak kepemimpinan.

Oleh karena itu, penulis menekankan bahwa mahasiswa perlu menciptakan lingkungan yang baik, perlu memilih teman-teman yang baik.  Lingkungan itu akan mengasah hati, pikiran, dan perilaku yang positif, yang memandu terbentuknya kepemimpinan.  Pilihlah lingkungan yang suka membaca, menulis, alim dan rendah hati.  Banyak-banyaklah membaca, maka ilmu itu akan menolongmu dalam kehidupan.   Jangan memilih lingkungan yang mengandalkan rasio semata, ikut-ikutan, atau jauh dari norma etika atau akhlak.  Jangan terbawa arus kehidupan atau hedonisme, karena itu akan menjatuhkan dan menghinakan diri sendiri.

Orangtua memiliki tanggungjawab mengelola SDM anak-anaknya.  Ngemong anak bermakna luas, yakni mendidik, mendampingi, menyemangati, disiplin, hingga memberi sanksi.  Orangtua perlu menjadi teladan bagi anak-anaknya.  Orangtua yang konsisten dan tangguh, memberikan potret belajar sabar bagi anak.  Orangtua yang lembut, memberikan sikap peduli dan cinta seorang anak.  Orangtua yang rendah hati, membangun sikap hormat dan menghargai bagi perkembangan anak. Orangtua yang berilmu, menjadi rujukan pengetahuan dan kearifan bagi anak.