Dipublikasikan pada blog kompasiana, 10 Juli 2016

engan menulis, banyak hal yang didapat seseorang. Ia melewati berbagai tahapan komplek yang menguras
pikiran, ketrampilan dan energi untuk menghasilkan sebuah karya tulis. Ia dapat menjangkau jauh tentang kedalaman
dan keluasan suatu obyek tulisan. Ia bisa mengembangkan imajinasi. Seorangpenulis juga bisa mengidentifikasi suatu
masalah, dan membaca gejala tentang suatu fenomena. Seseorang yang sedang menulis, maka ada dua hal yang
harus dikuasai, yakni (i) mendefinisikan kata atau kalimat yang ditulisnya, dan (ii) memberi makna dari tulisannya. Keduanya
membutuhkan energi besar untuk menjadi suatu tulisan.
Penulis menguasai definisi untuk dirinya sendiri sebagai suatu konsep ilmu atau pengetahuan. Sementara, pembaca biasanya
tidak memperhatikan definisi, yang penting ia mehamami makna suatu kalimat atau tulisan (Elbow, 1998). Disinilah kelebihan
penulis dibanding pembaca. Penulis mampu mengakumulasi pengetahuan, sehingga dapat menemukan keluasan dan ke
dalaman pengetahuan.

Dengan waktu, ketrampilan dan kemampuan menulis akan semakin teruji.  Rukun Iman penulis seperti disampaikan Khrisna Pabichara, yakni mental, teknik, intelektual, membaca, gaul, dan ketabahan akan terasah dan melekat pada diri penulis. Pengalaman ini membentuk karakter penulis dengan kelebihan-kelebihan tertentu.  Karena itu wajar bila seorang penulis kemudian menjadi rujukan pengetahuan, tempat bertanya, dan diadalkan.  Wajar pula seorang penulis kemudian diberi amanah jabatan, menjadi panutan atau menjadi pemimpin.

Ada enam kelebihan yang melekat pada diri seorang penulis.

Pertama, adaptasi dalam penguasaan teknologi dan aplikasi software.  Menulis membutuhkan alat tulis, teknologi menulis, dan software untuk publikasi.  Jaman dulu menulis perlu mesin ketik, mengerti kertas dan memahami cara kerja mesin stensil.  Kini, menulis dapat menggunakan pengolah kata dengan gadget, mengerti akses wifi, edit image, ngeblog, dan posting artikel.  Teknologi harus dikuasai, agar penulis ada di jajaran terdepan menggali dan update informasi dan tulisannya connecting dengan pembaca.  Teknologi ini secara umum membantu penulis untuk menggali informasi, menganalisis informasi, dan mempercepat proses hingga penerbitan tulisan.

Kedua, kreatif dan cerdas dalam mengembangkan ide atau isyu. Dunia informasi berubah sangat cepat.  Informasi berubah dalam hitungan detik.  Penulis selalu update informasi, ia perlu cepat mengolah informasi.  Penulis perlu berkreasi, menemukan sudut pandang, membangun keunikan dan menunjukkan perbedaan dengan tulisan yang sudah ada.  Karakter seorang penulis selalu identik hal-hal baru, ide orisinal dan isyu yang relevan dan bermakna.

Ketiga, berpikir kritis mengembangkan konsep baru.  Kecerdasan mengembangkan ide (poin kedua) perlu dilatih terus menerus. Hal ini penting agar penulis selalu berada dalam penguasaan gagasan yang lengkap dan valid.  Hal ini merupakan syarat terpenuhinya penyusunan premis, logika, atau  alur pikir sebagai kerangka dasar penyusunan konsep. Demikianlah, penulis akan selalu utuh, relevan dan updated dalam pemikiran dan konsep. 

Keempat, kemampuan determinasi menghadapi tekanan dan deadline. Proses lahirnya tulisan adalah sangat rigit waktu.  Seorang penulis bekejaran dengan waktu untuk menemukan isu, menganalisis dan menerbitkan tulisan.  Lihat saja cara bekerja para wartawan, yang bekerja mulai dari lapangan, proses redaksi, hingga publish. Ini juga dialami penulis dari kalangan dosen, peneliti, analis ekonomi, atau dokter.  Penulis harus memiliki determinasi tinggi agar tulisannya selalu update dan memberi manfaat.  Profesi apapun juga mementingkan momentum untuk mengambil keputusan.

Kelima, persuasi dengan orang lain atau pembaca. Profesi menulis adalah melayani untuk kepentingan dan kebutuhan pembaca.  Materi tulisan disampaikan dan menyesuaikan dengan kebutuhan, pemahaman, dan budaya pembaca.  Penulis harus melatih otak kanannya berfungsi optimal, untuk mengembangkan emosi dan spiritualnya agar dapat diterima oleh pembaca.  Penulis haruslah orang yang sabar, dan mampu mengendalikan dirinya, bukan saja penting untuk kepentingan pembaca, tetapi juga untuk mengembangkan intelektualnya.

Keenam, amal yang nyata. Kemampuan menulis memiliki dua sisi yang berlawanan.  Sisi negatifnya, menulis untuk mengumbar nafsu, atau kepentingan jangka pendek.  Hal ini tidak perlu dibahas.  Kemampuan menulis untuk hal positif, berkorelasi dengan iptek, memajukan kebudayaan dan meningkatkan martabat kemanusiaan. Menulis hal positif adalah amal yang nyata bagi penulis maupun untuk masyarakat luas.   Penulis berorientasi kepada kemanfaatan umat.

Malang, 10 Juli 2016

Catatan: tulisan ini kemudian dibukukan dalam Nugroho, I. (2018).  Menulis: membangun kekuatan dan motivasi kehidupan yang bermanfaat.  Pustaka Pelajar, Yogyakarta, ISBN : 9786022299271.  210p.