Dipublikasikan pada blog Kompasiana, 4 Juni 2025

Hari ini (Rabu, 4 Juni 2025) para jemaah sudah mulai berangkat ke Arafah untuk memulai ibadah haji.  Mereka berangkat dari Mekah menuju Arafah dengan menggunakan kendaraan bis atau moda transportasi lainnya.  Mulai hari ini, kerja pengelolaan haji atau yang disebut Armuzna (singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina) akan dimulai hingga enam atau tujuh hari ke depan. 

Sudah barang tentu, periode kerja Armuzna ini telah dipersiapkan dengan baik khususnya oleh pemerintah Saudi.  Ini juga menjadi periode krusial dalam rangkaian rukun haji, karena jutaan orang akan terkumpul dan bergerak serentak, untuk melakukan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan melempar jumrah di Mina, dan kemudian kembali lagi ke Mekah untuk melaksanakan Thawaf dan Sai.

Bagi jemaah haji, mereka tentu sudah mempersiapkan diri.  Pada musim haji tahun 2025 ini, jemaah umumnya telah menunggu 9 hingga 13 tahun.  Hati dan pikiran mereka bercampur antara haru, tawaduk, dan syukur bisa hadir di tanah suci.  Selama itu, mereka telah menata kehidupannya untuk siap menjadi tamu Allah dengan dengan bekal iman dan taqwa, beserta segala pengharapan, suka dan duka, termasuk pengorbanan keluarga dan orang-orang yang dicintainya.  Semoga kesiapan itu membawa kekhusyukan untuk melalui fase puncak ibadah haji, disertai harapan selalu sehat, ikhlas dan sabar.  Mengapa, karena fase Armuzna ini membutuhkan kesiapan mental dan fisik yang luar biasa dari para jemaah.

Tentu saja saat puncak haji seperti ini, menjadi pengingat penulis ketika berhaji tahun 2011.  Hati ini juga merasa senang dan terharu ikut merasakan pengalaman kenalan, kolega, atau famili/keluarga yang berangkat haji tahun ini, atau tahun-tahun sebelumnya.  Rasa haru itu berulang setiap musim haji.

Dalam konteks pengelolaan, pemerintah Arab Saudi telah memperbaiki segala kelemahan atau kekurangan yang ditemukan pada tahun-tahun sebelumnya.  Penggunaan kartu nusuk (semacam kartu pass haji, yang diberlakukan sejak 2024) nampak berhasil mengendalikan aliran jemaah lebih tertib, sekaligus menjamin pelayanan kepada jemaah haji lebih aman, dan memastikan kesehatan dan keselamatan.

Kartu nusuk sangat berdampak dalam mengendalikan aliran jemaah, sehingga kota Mekah benar-benar menjadi nyaman.  Jalanan Mekah lebih tertib, masuk ke masjid umumnya lebih leluasa meski harus melalui cek poin tertentu.  Hal ini sangat beralasan, karena setiap muslim pasti berkeinginan pergi ke tanah suci, dengan berbagai cara.  Kalau tidak ditertibkan, maka aliran jemaah haji atau orang lain akan menimbulkan crowded.  Mengelola jumlah jemaah haji, yang mencapai 3-4 juta orang, tentu tidak mudah dan banyak hal krusial.

Permasalahan tidak terbitnya visa haji Furoda juga sangat dipahami.  Semua pasti sudah dipertimbangkan oleh pemerintah Saudi.  Sekali lagi, langkah itu semua demi ketertiban terselenggaranya ibadah haji, sebagai bagian pengelolaan haji yang lebih bertanggungjawab.  Termasuk langkah tegas pemerintah Saudi mengusir jemaah non prosedural atau orang-orang yang tidak eligible memasuki mekah selama musim haji.

Alhamdulillah dua anak kami bisa berangkat haji tahun ini.  Mereka mengabarkan kondisi Mekah sangat nyaman, fasilitas hotel sangat memadai, dan pengelolaan oleh petugas haji sangat baik.  Fasilitas tenda di Arafah juga nyaman, bersih dan sangat memadai. Konsumsi dan menu makanan juga sangat layak.

Semoga puncak ibadah haji 2025 berjalan dengan tertib, nyaman dan aman.

Malang, 4 Juni 2025