Hari Selasa, 21 Agustus 2016, pak Agus Sudaryanto meninggal dunia.  Pak Agus menderita sakit beberapa waktu dalam perawatan intensif oleh dokter.  Kita semua, khususnya warga besar YPPI Widyagama dan Universitas Widyagama Malang, kehilangan sosok seorang pekerja, yang juga pemimpin yang dekat dengan siapa saja.

Semasa hidup, pak Agus dikenal sebagai pekerja keras, yang hampir-hampir tidak mengenal tempat dan waktu.  Pak Agus biasa ditemui malam hari di kampus, untuk menjalankan tugasnya sebagai dosen atau tanggungjawab jabatan.

Banyak kesan dan pengalaman dari bekerja dan berteman dengan pak Agus. Dalam bekerja pak Agus turun tangan langsung dan serba bisa.  Pak Agus menguasai konsep manajemen dan landasan peraturan, serta bagaimana mengimplementasikan hingga perihal teknis. Hal ini tidak lepas dari background keilmuan ilmu hukum yang beliau kuasai. Konsep itu kemudian disampaikan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami oleh orang awam.

Saya masih ingat dan tertanam di benak, saat beliau mengatakan:  “Di Statuta masih banyak celah yang dapat dilengkapi atau diisi dengan peraturan atau ketentuan di bawahnya”.  Bahkan pak Agus ingat jumlah peraturan universitas, peraturan rektor, atau aturan lain untuk melengkapi hal tersebut (dari pasal-pasal statuta).  Hal ini menunjukkan bahwa beliau benar-benar tahu dan paham betul, dan peduli untuk menyampaikan info-info terkait dengan kebutuhan orang lain.. tanpa diminta.  Saya yang awam hirarki aturan, menjadi jelas dan memudahkan untuk melaksanakan.  Dari situ saya kemudian banyak belajar bagaimana membuat aturan, sebagaimana yang selama ini berjalan.  Tentu saja saya juga sering meminta nasehat perihal lain.

Sikap pak Agus yang “tahu” dan “memberitahu”, bagi saya itu,.. itu sikap dasar seorang pendidik dan ilmuwan.  Tahu (know) atau pengetahuan (knowledge) adalah ilmu, memberitahu atau menyampaikan (tell) adalah amal.  Sungguh sangat simpel,..itulah amal sholeh seorang dosen.

Ini menjadi semacam kritik untuk kita semua, termasuk diri saya.  Betapa banyak diantara kita sebagai dosen memiliki banyak pengetahuan.  Tapi kita kurang atau tidak menyampaikannya kepada teman atau pihak yang berkepentingan, seolah ilmu itu disimpan sendiri, kita tidak mau membagi.  Ilmu itu kemudian diam, dan tidak teramalkan.

Karena kapasitas beliau yang tahu dan memberitahu itulah, pak Agus memiliki teman banyak dari berbagai kalangan.  Pak Agus menjadi “orang yang bermanfaat” bagi orang lain.  Pak Agus menjadi pakar hukum (pidana) yang diakui di kota Malang bahkan Jawa Timur.  Karena itu, pak Agus menjadi rujukan bagi berbagai pihak, antara lain kalangan dosen, pengacara, kepolisian, kejaksanaan, KOMNAS HAM, dan pemerhati hukum.  Hingga di akhir hayatnya, pak Agus masih melayani permintaan pertimbangan/nasehat hukum dari berbagai pihak.

Sebagai teman, pak Agus luar biasa perhatiannya.  Saya merasa ditemani oleh pak Agus saat saya sendirian memikirkan kampus.  Banyak saat-saat genting di kampus, pak Agus menemani dan menguatkan saya.  Pak Agus datang ke rumah saya naik motor dengan terlihat kepayahan, padahal pak Agus juga letih setelah beramal untuk orang lain.

Pak Agus bekerja bukan untuk dirinya sendiri.  Apa yang beliau lakukan adalah untuk orang lain, untuk kampus dan untuk lembaga YPPI.  Komitmen itu sering terucap atau terasakan.  Apa yang dipikirkan selalu terkait kampus.  Saat di rumah sakit, beliau memikirkan kampus, selalu ingat mengajar, merasa ditunggu mahasiswa.  Hatinya selalu bersemangat saat mikir pembelajaran mahasiswa, meski tubuhnya lemah.

Kini pak Agus Sudaryanto sudah meninggalkan kita, meninggalkan kesan untuk kita semua.

Hal-hal positif dari pak Agus kita teladani, untuk menjadi orang menyenangkan, selalu memberitahu, membantu, dan untuk menjadi orang bermanfaat.  Prinsip hidup know dan tell pak Agus kita teladani.  Ayo kita banyak dan gali pengetahuan, dan kita sampaikan kepada orang lain, agar memberi manfaat untuk orang lain.

Semoga amal kebaikannya diterima Allah, dosa-dosanya diampuni dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan tidak putus doa untuk beliau.

December 22, 2016