Pada hari Kamis. 12 Februari 2015, penulis mengunjungi agrowisata (buah) blimbing di desa Moyoketen, kecamatan Boyolangu, kabupaten Tulungagung.  Kepopuleran agrowisata blimbing sudah menyebar, silakan baca website berikut 1, 2, 3.  Agrowisata ini dikembangkan oleh pak Mulyono, yang memulai usaha sejak 23 tahun yang lalu.  Kini penduduk desa Moyoketen sudah menerima blimbing, sebagai alternatif bercocok tanam yang memberikan penghasilan yang lumayan.

Workshop Agrowisata Blimbing

Workshop Agrowisata Blimbing

Lokasi desa Moyoketen berada di dekat jalur jalan utama Tulungagung – Trenggalek, berjarak sekitar 3 – 4 km dari pusat kota Tulungagung.  Tepatnya di jembatan  Lembu Peteng, pengunjung memilih belok kiri arah selatan menuju lokasi berjarak sekitar 3.0 km.  Jalanan mengikuti arah sungai ini, beraspal dan cukup lebar sehingga kendaraan bus dapat melewati.  Kendaraan kemudian belok kiri melewati jembatan, dan sudah masuk ke lokasi agrowisata blimbing.   Pengunjung di agrowisata ini kebanyakan melalui hotel maupun biro perjalanan atau travel. Jumlah pengunjung di hari libur atau akhir minggu sangat padat.

ruang workshop agrowisata blimbing

ruang workshop agrowisata blimbing

Rumah, atau tempat usaha (tepatnya workshop) pak Mulyono berada di jalan desa.  Tersedia tempat parkir yang cukup nyaman.   Rumah pak Mulyono tidak berbeda dengan rumah penduduk lain, bahkan terkesan sederhana.  Yang menjadi penanda yang menyolok adalah tulisan besar di dinding: AGROWISATA BLIMBING MULYONO SESUAI DENGAN HATINYA PKK.  Apa makna tulisan ini, penulis belum menanyakannya kepada pak Mulyono.  Masuk ke dalam rumah, pengunjung mungkin terkejut, seolah dibawa masuk ke restoran atau warung makan.  Disana tersedia meja makan (baik dengan duduk atau lesehan), etalase buah, atau produk makanan olahan, kasir, tempat sholat, dan tempat bermain anak.   Luasan area workshop ini sekitar 100 m persegi.

Sajian makanan dan minuman kebun blimbing pak Mulyono

Sajian makanan dan minuman kebun blimbing pak Mulyono

Di daftar menu, pengunjung dapat memesan minuman dan makanan.  Selain minuman berbahan blimbing, juga tersedia jus buah lain, minuman hangat, atau soft drink.  Menu makan yang tersedia adalah bakso.  Sedangkan makanan ringan lainnya adalah produk olahan blimbing, kue, roti dan aneka kripik.

kebun blimbing pak Mulyono

kebun blimbing pak Mulyono

kebun blimbing pak Mulyono

gazebo di kebun blimbing pak Mulyono

Dimana blimbingnya?  Pengunjung tidak perlu lama mencarinya.  Di belakang workshop ini ada kebun dengan barisan pohon blimbing.  Kebun ini dibatasi tembok dengan luas tidak lebih 0.5 ha.  Pohon blimbing dengan buah yang dibungkus plastik ini pasti akan menarik perhatian.  Buah blimbing dipanen 4 hingga 5 kali dalam satu tahun.  Penulis segera saja turun ke kebun ini.  Pengunjung tidak perlu takut kotor, lantai kebun telah di semen, sehingga mobilitas pengunjung lebih nyaman.  Anak-anak juga dapat berlarian di bawah kebun ini.   Di antara atau di tengah pohon nampak ada meja dan kursi yang dapat digunakan pengunjung untuk menikmati menu makanan/minuman dan suasana kebun ini.  Disinilah, pengunjung didampingi pemandu dapat melakukan petik buah.

Kini, luas usaha kebun pak Mulyono di luar workshop sudah mencapai 10 ha.  Pak Mul, begitu panggilan beliau, juga membina penduduk sekitarnya sebagai plasma.  Pekebun bergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tunas blimbing.  Kebun plasma mensuplai kebutuhan blimbing kepada pak Mul.  Ada juga pekebun yang sudah mandiri, juga dari desa-desa lainnya.  Buah blimbing dari daerah Tulungagung ini dikirim untuk memenuhi kebutuhan luar kota, hingga Surabaya, Semarang, Bandung dan Jakarta.

Keberhasilan usaha budidaya blimbing ini telah mempopulerkan desa Moyoketen dan sekitarnya, serta nama pak Mulyono menjadi dikenal. Pak Mul sering diundang untuk memberi pelatihan berkebun blimbing, serta menjadi pembicara seminar, konsultan, teladan dan motivator wirausaha, dan membantu pemerintah daerah.  Pak Mul juga menerima penghargaan atas prestasi usahanya itu dari berbagai pihak, diantaranya adalah UKM Award Parasamya Kertanugraha tahun 2008.

Kika: Penulis, p Mulyono, Prof Sukamto, Candra Aditya, Agung Nugroho

Kika: Penulis, p Mulyono, Prof Sukamto, Candra Aditya, Agung Nugroho

Penulis (kiri) menyerahkan buku Pengembangan Desa Wisata ke pak Mulyono

Penulis (kiri) menyerahkan buku Pengembangan Desa Wisata ke pak Mulyono

Saat kami berkunjung, pak Mul menerima kunjungan tamu dari Kalimantan Selatan yang juga ingin membuka kebun blimbing.  Tamu lainnya berasal dari desa sebelah yang ingin nasehat dan bimbingan pak Mul dalam mengembangkan desa.  Foto-foto pengalaman dan prestasi, atau piagam penghargaan, ditempel di sepanjang dinding workshop.

Ketika berbincang dengan pak Mul, nampak sekali kekuatan dan gairahnya untuk mengembangkan daerahnya, khususnya Tulungagung.  Sejak memulai usahanya , dirinya ingin kota Tulungagung menjadi maju dan dikenal.  Dulu kota Tulungagung sangat miskin, Alhamdulillah kini mulai maju, katanya.  Ia sedikit prihatin dengan banyaknya penduduk Tulungagung yang menjadi TKI.  Ia yang mempekerjakan sepuluh orang karyawan di workshopnya, merasakan ada kendala, tenaga kerja menjadi terbatas di Tulungagung, khususnya di bidang pertanian.

Kerendahan hati dan kesederhanaan bapak dua anak ini juga sangat kentara. Kami atau tamu lainnya diterima beliau dengan penampilan bersahaja.  Itu tidak mengurangi gormat kami akan kompetensinya. Tutur katanya sopan, lembut dan berisi.  Beliau merasa bersyukur banyak diberi kemudahan oleh Allah dalam menjalankan usahanya.  Ia berkewajiban membantu siapa saja, dan dimana saja untuk memberi manfaat kepada orang lain.  Ia ingin bahwa setiap orang peduli kepada lingkungan, dan mendayagunakan lingkungan agar memberi kesejahteraan.  Ia bercerita atas keterlibatannya dalam program lingkungan dari WWF (World Wild Fund).  Ia juga banyak belajar, dengan membaca, mendengar dan berdiskusi dengan semua pihak.

Lembah Panderman, 15 Februari 2015