Suatu hari penulis dikonfirmasi oleh seorang teman. Katanya: “Sing penting ikhlas, mari kabeh”. Dalam bahasa Indonesia artinya dengan bersikap ikhlas, maka sesungguhnya semua masalah kehidupan akan selesai. Kata itu benar-benar mengena dalam hati penulis, karena konteksnya tepat dengan pekerjaan yang penulis hadapi. Kejadian itu sudah berlangsung lama, lebih setahun lalu. Kini, kata-kata ikhlas itu terngiang kembali saat melaksanakan ibadah umroh, bulan Desember 2014.
Ibadah umroh kali ini memang memiliki nuansa unik. Pengalaman spiritual selalu ditemukan oleh setiap orang sesuai pemahaman dan pengalamannya. Setiap jamaah yang umroh atau haji, pasti, sejak jauh hari direncanakan, akan mengorbankan pilihan lain. Belum lagi ia harus keluarkan biaya yang banyak, serta bekal untuk keluarga yang ditinggalkan. Ia pasti tahu resikonya meninggalkan pekerjaan, tugas, atau kebutuhan dan keinginannya, dengan berumroh/atau haji. Mungkin pada saat umroh/haji, ia tidak bisa ikut seminar ke luar negeri, tidak masuk nominasi jabatan kantor, atau peluang kariernya hilang. Namun ia justru yakin dengan umroh/haji tanpa takut resiko. Kata yang tepat, AKU RAPOPO, IKHLAS, sudah niat umroh/haji, dan harus jalan.
Sebaliknya yang berat umroh/haji atau menundanya, mungkin berakibat lain. Ia mungkin akan semakin terbelenggu dengan kesibukan dunia dan segala urusannya. Urusan dunia akan selalu membelenggunya, dan menjadi alasan sehingga tidak berangkat umroh. Urusan dunia itu antara lain pekerjaan, karier, keluarga, anak, harta, properti, budaya, dan tetek bengek lainnya. Ada seorang kawan, yang kurang serius daftar umroh, meski ia mampu, justru ia mendapatkan tugas dari atasannya sehingga menunda umroh sampai entah kapan. Sejenak mari renungkan bait berikut:
- tidak terhitung harta yang sudah terkumpul
- tidak berhenti kebutuhan terpenuhi
- tidak pernah habis urusan manusia
- tidak banyak kesempatan datang
- tidak ada ujung tujuan di muka bumi
- tidak tahu kapan usia berhenti
Karena itu, penulis mengajak setiap muslim agar dengan ikhlas menyegerakan atau mengutamakan umroh/atau haji. Apalagi antrian haji saat ini begitu panjang, hingga lebih dari lima belas tahun. Karena itu umroh dapat menjani pilihan. Jangan menundanya, jangan takut akan biayanya, Perkara ini adalah untuk Allah, bukan perkara dunia. Allah ada di dekat kita, kiranya hanya kepada Allah kita dapat meminta dan memohon pertolongannya. Jangan ditunda sebelum semuanya terlambat. Keikhlasan dalam hati akan memberikan solusi untuk berangkat umroh/haji. Allah yang menunjukkan solusi itu.
Perjalanan selama menempuh kegiatan umroh/haji, saat di kota suci pun memberikan makna ikhlas yang luar biasa. Satu yang pasti, adalah memenuhi panggilan Allah dan melepas kerinduan kepada Rasulullah (baca tulisan sebelumnya). Getaran illahi dalam hati manusia akan mengusung sikap ikhlas, melepas belenggu dan atribut dunia. Ikhlas bermakna ada getaran illahi, dan ini hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang sudah tertanam nilai-nilai ketauhidan dan ketundukan kepada Allah. Ikhlas adalah sikap tanpa syarat dunia, tidak memandang ras atau kesukuan, warna kulit, pandai, bodoh, tua, muda, laki atau perempuan. Ikhlas adalah hanya untuk Allah semata
Di tanah suci, kita dengan mudah melihat orang-orang yang ikhlas. Ada orang berbagi permen meski tidak saling mengenal, sedekah makanan, ada yang tersenyum setelah bersenggolan, ada yang membantu meski tanpa diminta, ada yang sukarela menunjukkan jalan kepada orang tersesat, ada yang suka rela ngajari baca Quran. Ada pula orang yang berkomunikasi dalam bahasa tarzan, dengan penuh senyuman. Dalam ketidak mengertian berbahasa, Allah memudahkan orang yang ikhlas, saling berkomunikasi. Hal ini penulis alami saat bercengkerama dengan bapak-bapak tua dari Turkiye. Di saat yang lain, penulis sempat ragu minta bantuan jamaah Indonesia untuk memfoto kami, ternyata di luar dugaan.. bapak dari Demak (Jateng) itu justru memfoto kami dengan teknik shoot duduk di lantai (duduk ndemproh), bahkan ia mengeluarkan kamera DSLR nya untuk memfoto kami. Orang-orang ini semua memiliki getaran Illahi, yang tertanam di hatinya, sehingga dimudahkan untuk saling memberi.manfaat satu sama lain.
Dengan bersikap ikhlas, sesungguhnya seseorang sedang menurunkan rasio dan ego manusiawinya. Pada saat yang sama ia menundukkan dirinya dan berpasrah diri kepada Allah. Ia berharap yang menyelesaikan urusannya adalah Allah. Benar, Allah yang berkehendak dan menyelesaikan urusan manusia. Rasul diturunkan oleh Allah agar manusia mengingat hanya kepada Allah, tunduk kepada Allah. Lihat tulisan sebelumnya.
Upaya memperbaiki diri untuk menjadi ikhlas memang tidak mudah. Penulis terus berusaha, terkadang bisa ikhlas, tetapi juga justru sering tidak ikhlas mengandalkan rasio dan terlalu kuatir. Diantara pembaca mungkin ada yang bergelar/pangkat jendral, anggota lembaga tinggi negara, berjabatan eselon, profesor, doktor, para profesional, berpangkat perwira, manajer puncak, rektor, dekan, dosen senior, atau memegang jabatan tinggi atau penting. Semua atribut itu penting dan perlu, tetapi belum menjamin bisa mengantarkan kepada keikhlasan. Atribut dunia itu belum tentu menciptakan getaran illahi di dalam hati, tetapi justru dapat menciptakan penghalang lahirnya hati yang ikhlas. Mungkin kita tersinggung bila tidak dihormati, tidak diajeni, gelar lupa disebut, tidak diberi fasilitas, dinasehati orang lain atau dilupakan orang. Disitulah kita sedang TIDAK IKHLAS.
Cara melatih bersikap ikhlas perlu dikembangkan. Cara ini sejalan untuk memperkuat niat umroh/haji atau niat baik lainnya, disertai sikap ketundukan kepada Allah. Sederhana saja, cukup dengan pendekatan berikut ini.
(1) sering-sering membaca, baik itu dari buku pengetahuan umum atau buku agama. Membaca adalah upaya meletakkan hati dan pikiran untuk siap menerima ilmu, pengetahuan atau nilai kehidupan. Orang yang membaca dengan fokus, maka pikirannya juga tenang. Mata akan merekam buku atau tulisan, dan memancarkan informasi ke dalam otak dan pikiran. Informasi lainnya ke otak otomatis akan terkendali dan menghasilkan kognitif yang luas dan sistematis. Orang yang berpengetahuan luas, akan ma.mpu membaca fenomena dunia dan akherat, mudah menahan diri dan ikhlas terhadap hukum-hukum Allah.
(2) suka mendatangi majelis ilmu, misalnya pengajian atau mendengar nasehat agama. Datang dan duduk ke majelis ilmu sebenarnya memaksa diri seseorang. Hal ini mungkin sangat tidak nyaman. Seorang yang pandai, tetap perlu mengaji ke majelis ilmu, meski ia sudah tahu tentang materinya. Yang ingin dicapai dalam majelis ilmu adalah agar setiap orang mau ikhlas dan manut untuk duduk, mendengar seksama nasehat agama, dan ikhlas meninggalkan tugas dan ego kepentingannya. Disinilah akan timbul rasa hormat, saling silaturahim, antara jamaah dan penceramah.
(3) sering-sering bersikap diam, sabar, menghindari banyak omong yang tidak perlu. Dalam suasana suka atau duka, riang sedih, cukup atau kurang, diam adalah sikap paling tepat, diiringi doa dan rasa syukur kepada Allah. Diam adalah wujud paling nampak dari sikap ikhlas. Diam sebenarnya juga mencegah, menahan diri atau menghindari perilaku amarah, mengeluh, tidak puas, atau ghibah. Dalam diam itulah, insya allah akan datang jalan keluar dan manfaat lain dari Allah.
(4) berkumpul dengan orang-orang yang berilmu dan berakhlak baik. Melatih ikhlas perlu berguru kepada para orang-orang yang ikhlas atau yang berakhlak baik. Siapa mereka itu? Mereka itu adalah para pendidik, guru teladan, guru di pondok pesantren, orang tua bijak. Ada kalanya seorang biasa/pegawai rendahan punya kriteria ini karena ia pernah menjalani kehidupan seperti para ulama atau orang alim. Anak yang berbakti kepada orang tua, memperoleh didikan agama, disiplin dan rendah hati selama hidupnya, akan menjadi pribadi yang berakhlak dan dan berilmu.
(5) rajin beribadah untuk melatih hadirnya getaran Illahi di dalam hati. Ibadah dengan khusuk, dan diterapkan dalam kehidupan sosial, akan menanamkan getaran Illahi dalam hati dan memandu langkah terciptanya kesalehan sosial. Ikhlas akan memancarkan sifat-sifat sosial atau disebut sebagai kesalehan sosial. Orang ahli ibadah belum tentu menunjukkan keikhlasan, karena getaran illahi belum tertanam di hatinya.
Menutup tulisan ini, penulis mengajak diri sendiri dan pembaca, untuk melatih diri, senantiasa mengingat Allah. Sikap ikhlas memang tidak nyaman untuk diri sendiri, tetapi itu adalah untuk Allah. Berlatih berbagi dengan orang lain atau membantu orang lain, jangan dibatasi karena alasan tugas dunia saja, tetapi itu adalah getaran illahi untuk ketundukan kepada Allah. Hikmah umroh dalam ikhlas dapat diterapkan dalam kehidupan. Ikhlaskan hati untuk bersegera umroh atau haji. Ciptakan keikhlasan dalam keluarga, lingkungan kantor, atau masyarakat. Ikhlas adalah solusi.
Mekah, 18 Desember 2014
Tulisan terkait




Assalamualaikum, mampir untuk baca pak. Tulisan yang sangat inspiratif, saya dari pihak travel mohon maaf sebesar-besarnya apa bila ada kesalahan dan ketidak nyamanan pelayanan kami selama perjalanan umroh..
terimakasih bu evi