1 Muharram menjadi momentum penting agama Islam.   Ini merupakan momentum peringatan hijrahnya nabi Muhammad saw atas perintah Allah, dari sebelumnya di kota Mekah berpindah ke Madinah.  Kota Mekah sangat dicintai Rasul, namun harus ditinggalkan demi tegaknya agama Islam dan pengembangan Islam, dengan maksud meletakkan posisi manusia dalam pengabdiannya hanya kepada Allah semata.

Hijrah ini memiliki tiga makna penting (1).  Pertama, Hijrah Insaniyyah. Rasulullah saw. menyatakan bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama.  Kalimat Syahadat menyatakan bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah. Kalimat Syahadat mematahkan segala macam perbudakan dan penguasaan atas seseorang yang berlaku di jaman jahiliyyah saat itu. Agama Islam telah meletakkan sebuah pondasi tata nilai kemanusiaan yang sederajat.

Kedua, Hijrah Tsaqafiyyah.  Rasulullah saw dalam berperilaku dan berkehidupan menampilkan pribadi yang santun, lembut, menghargai, dan menghormati semua orang dengan cara yang sama tanpa ada perbedaan.  Rasul mendorong hijrah tata krama atau budaya, dari jahiliyyah menuju madaniyah. Rasul bersabda: “Bahwasannya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq”.

Ketiga, Hijrah Islamiyyah.  Rasulullah mengajak umatnya untuk pasrah total hanya kepada Allah. Pada jaman itu, kaum jahiliyyah hidup dalam belenggu feodalisme perbudakan, kebodohan, kemusyrikan, nafsu, mengejar kekuasaan dan keserakahan dunia.   Rasul membebaskan belenggu itu, dan meletakkan ketundukan hanya kepada Allah.

Tiga makna hijrah itu perlu terus dihidupkan dalam hati, sikap dan perilaku manusia pada saat ini.   Mengapa? Karena bentuk kejahiliyyahan terus mengalami metamorfosis mengikuti generasi manusia.  Jahiliyyah wujud baru, canggih dan modern telah hadir secara nyata atau tidak nyata, dalam wujud budaya, sikap atau pikiran. Mereka melupakan Allah sebagai pemilik kekuasaan, langit dan bumi, dan maha berkehendak.

Hijrah dengan ilmu

Bagaimana menciptakan lingkungan dan suasana hijrah dalam kehidupan.  Jawabannya adalah dengan ilmu Allah.  Ilmu Allah dapat menghapus kebodohan, melepas belenggu, dan mengantarkan kepada kerendahan hati. Rasul hijrah karena diberi ilmu oleh Allah, dan Rasul mentaati dan menjalankan ilmu-ilmu Allah itu.

Ilmu Allah itu ada di Al Quran, dalam sunah-sunah nabi, dalam kehidupan sahabat, hingga kearifan para ulama.  Ilmu Allah itu juga mengalir dalam pikiran ilmuwan eksakta, sosial, budaya dan seni, yang menunjukkan ketundukan kepada Allah.  Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah miliknya Allah, bukan miliknya manusia.  Karenanya, sikap yang tepat adalah manusia terus mempelajari, mendalami dan mengembangkan ilmu, atau menerapkan iptek tetap dalam kerangka ketundukan kepada Allah dan untuk kemaslahatan umat manusia.  Manusia bertugas mempelajari ilmu, Allah sebagai pemilik ilmu, menyempurnakan ilmu itu.

http://3.bp.blogspot.com

Sungguh sangat beruntung orang-orang yang berilmu, karena dengan ketundukan kepada Allah, ia dengan ikhlas mudah hijrah kepada kebaikan.  Ilmuwan sejati ikhlas selalu mengamalkan ilmu, harta dan kehidupannya di jalan Allah, untuk pengembangan ilmu, kemanfaatan dan kemaslahatan.

Bagaimana dengan orang awam umumnya, dapatkah berhijrah dengan ilmu.  Tidak perlu kuatir.  Semua orang dapat berhijrah kepada kebaikan meski ia awam terhadap ilmu.  Dengan memahami dan menjalankan bagaimana adab-adab menuntut ilmu, maka dia dimudahkan untuk melakukan hijrah.  Dengan menjalankan kehidupan didasarkan adab menuntut ilmu, Insya Allah hidupnya berkah dunia akhirat.  Bagaimana caranya? (2)

Pertama ikhlas.  Seorang yang hidupnya diniatkan dengan ikhlas untuk menambah ilmu, atau kemanfaatan di jalan Allah, maka kasih sayang Allah berpihak kepadanya.    Sebuah hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim : “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk wajah dan harta kalian, namun yang Dia lihat adalah hati dan amalan kalian.”  Wujud sikap ikhlas secara total adalah meletakkan niat sebagai ibadah dalam kegiatan apapun, di  rumah, kantor atau masyarakat.  Dengan niat ikhlas dan ibadah itu, Allah akan memberikan keberkahan dalam hidupnya.

sumber: http://gdb.voanews.com

Kedua, bersungguh-sungguh.   Ada pepatah “man jadda wajada”, artinya siapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil.  Ilmu dapat membantu seseorang mencapai hasil terbaik dari kesungguhannya.  “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalan Kami nisacaya Kami akan tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” [Al Ankabut: 69].  Pepatah itu berlaku tidak hanya dalam menuntut ilmu, tetapi dalam kehidupan lainnya. Orang yang bersungguh-sungguh bekerja, akan memanen hasil kerja yang produktif, dan memperoleh banyak kemudahan dalam hidupnya.  Sebaliknya, orang dengan sifat pemalas, tidak tangguh,  pesimis sama dengan menghalangi kebaikan dari hidupnya.

Sumber: http://t3.gstatic.com

Ketiga, meminta pertolongan kepada Allah.  Betapa banyak manusia lupa berserah diri kepada Allah, mengandalkan rasio, teknologi, atau terbelenggu dengan (budaya) materialsm/modern.  Persoalan dunia, kesulitan atau hambatan, semuanya karena kehendak Allah.  Seyogyanya kita bekerja keras, dan bertawakal seraya memohon kasih sayang kepada Allah semata.  “Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” [An Nur: 21].

Keempat beramal.  Sahabat Ali ra berkata : “Ilmu akan mengajak pemiliknya untuk beramal, jika dia penuhi ajakan tersebut ilmunya akan tetap ada, namun jika tidak maka ilmunya akan hilang.”  Amal dapat dimaknai sebagai sikap peduli, yakni peduli kepada orang lain, inisiatif membantu orang lain, bekerja atau melayani orang lain, bekerja untuk organisasi.     Dari sisi yang lain, sebaik-baiknya amal adalah untuk menegakkan agama dan mencari ilmu.  Orang yang berharta dapat membantu pondok pesantren, menyantuni sekolah yatim, melanjutkan pendidikan, atau membantu dakwah.  Demikian pula, orang yang suka mendatangi majelis ilmu atau pengajian, suka mendengar nasehat agama, akan memperoleh ilmu dan amal sekaligus.  Di dalam harta itu senantiasa ada hak orang lain, dan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Kelima, akhlaq. Orang yang berakhlak mulia menampilkan sikap lemah lembut, tenang, santun dan sabar. Akhlak wajib dimiliki penuntut ilmu atau orang awam. Akhlak merupakan derajad keimanan yang tinggi, yang mencerminkan empat sifat sebelumnya.  Akhlak adalah misi utama yang disampaikan oleh Rasulullah saw kepada seluruh umat manusia.   Orang yang berakhlak mulia adalah yang ikhlas dalam bekerja, bersungguh-sungguh untuk memberikan hasil terbaik bagi orang lain, berpasrah diri hanya kepada Allah, dan berilmu yang amaliyah.  Orang yang berakhlak selalu ditunggu kehadirannya, untuk mencerahkan, menenangkan dan membantu kebutuhan orang lain.  Hidupnya bukan untuk diri sendiri.  Sabda nabi saw: “Khoirunnas anfa ‘uhum linnas”, yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya (HR. Bukhari Muslim).

Keenam, berdakwah.  Orang yang berilmu atau punya pengetahuan, wajib mengajarkan ilmunya, mengamalkan ketrampilannya  kepada orang lain. Allah berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”  [Al Ashr:1-3].  Orang awam dapat menciptakan silaturahim saling “nasehat menasehati” perihal sholat, hidup tertib dan sehat, peduli, bersikap jujur, saling membantu, atau pesan moral lain untuk kemaslahatan.

Menutup tulisan ini, kita memohon ampun atas kesalahan dan dosa kepada Allah (di masa lalu).  Kita memohon kekuatan untuk hidup lurus, selurus-lurusnya dari godaan kejahiliyyahan.  Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. “[Al-An’am: 82].  Mari kita hijrah untuk terus belajar dan memperdalam ilmu agama, membaca pengetahuan dan etika, menghormati sesama, hidup tertib dalam kebenaran, dan hidup yang lebih produktif.

Selamat tahun baru 1436H

Malang 26 Oktober 2014

Tulisan terkait: