Tulisan telah terbit pada blog kompasiana 3 Juli 2017
Coban Talun adalah salah satu tujuan wisata di kota wisata Batu, Malang. Posisinya hanya sekitar 3 km dari Selecta, tujuan wisata yang lebih dulu populer. Menuju Coban Talun mudah dijangkau, dengan berkendaraan dari kota Batu hanya sekitar 10 menit. Coban Talun berlokasi di Desa Tulungrejo, kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada koordinat -7.800929, 112.516631, pada ketinggian 1300 m.
Jalan dari kota Batu ke Coban Talun sangat nyaman dan indah, dengan pemandangan pegunungan pada sisi barat gunung Arjuno. Sepanjang jalan banyak obyek wisata berbasis apel atau bunga/tanaman hias dengan akomodasi penginapan dan kuliner. Infrastruktur wisata telah dibangun oleh pemkot Batu dengan kondisi memadai, dan masyarakat mendukung layanan wisata ini. Masyarakat, meski berbasis agraris, namun telah lama terlibat dan punya entrepreneurship dalam berwisata.


Nama coban Talun merujuk kepada suatu obyek wisata air terjun. Ya.. disini ada air terjun yang arusnya cukup besar, yang merupakan hulu sungai Brantas. Coban Talun dikelola oleh Perhutani, dan bekerja sama dengan pihak swasta yang menyediakan wahana-wahana yang menghibur wisatawan. Obyek Coban Talun memadukan wisata alam dan wisata buatan, sehingga dapat melayani wisata untuk berbagai usia, minat atau kebutuhan.
Bagi pengunjung, tetaplah untuk melihat air terjun. Begitu tiba di lokasi, jadikan air terjun sebagai obyek utama untuk dinikmati, setelah itu silakan menikmati wahana lain. Mengapa? Karena keindahan alam air terjun tidak tergantikan.

Pengunjung tidak perlu kuatir letih atau capai, suasana alam yang sejuk dan nyaman akan menghibur. Berjalan lah santai tidak terburu-buru, dan berhati-hati karena jalanan ada yang menurun terjal. Anak berusia empat atau lima tahun pasti nyaman dengan lingkungan hutan yang bersahabat. Anda yang berusia 50 – 60 tahun juga nyaman sambil berlatih jalan kaki, sambil momong melihat kegembiraan cucu. Penulis banyak melihat pengunjung berusia paruh baya, ada yang suami istri, atau ibu beserta anak-anak dan cucunya. Sekali lagi jaraknya hanya 1 km, tidak terlalu jauh.


Nah, bagi yang suka berfoto, khususnya anak-anak muda, banyak tempat bisa dipilih, mulai di aliran sungai, batu-batuan hingga ketinggian dekat air terjun; semuanya menarik dan luar biasa. Pengunjung wajib waspada dan berhati-hati karena di beberapa tempat licin dan basah oleh tampias air terjun atau uap air.
Selesai dari lokasi air terjun, pengunjung dapat memilih wahana hiburan. Ada macam-macam wahana yang dapat dikunjungi, oleh orangtua, anak muda atau anak-anak balita. Kalau ini sih tanpa tantangan fisik, lokasinya berdekatan di sekitar lokasi parkir.




Pihak Perhutani nampaknya kurang menyeleksi kehadiran pihak investor yang menyediakan wahana. Kecuali obyek wisata air terjun, semua wahana hanya memberi kesan untuk berfoto, berkesan kosmetik tanpa sentuhan edukasi. Investor harusnya mengedepankan unsur lokal atau kreasi yang memuat lingkungan tropika, dengan sajian edukasi dan konservasi lingkungan.
Malang, 3 Juli 2017
Catatan: Semua foto adalah koleksi pribadi
Penulis menulis buku:
- Iwan Nugroho. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p. ISBN 978-602-9033-31-1
- Iwan Nugroho dan Rokhmin Dahuri. 2012. Pembangunan Wilayah: Perspektif ekonomi, sosial dan lingkungan. Cetakan Ulang. Diterbitkan kembali oleh LP3ES, Jakarta. ISBN 979-3330-90-2
- Iwan Nugroho dan Purnawan D Negara. 2015. Pengembangan Desa Melalui Ekowisata, diterbitkan oleh Era Adicitra Intermedia, Solo. 281 halaman. ISBN 978-602-1680-13-1
- Iwan Nugroho. 2016. Kepemimpinan: Perpaduan Iman, Ilmu dan Akhlak. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 362p. ISBN 9786022296386